Ekonom Sebut Independensi Jadi Syarat Utama Calon Gubernur BI, Intervensi Politik Bisa Bikin Rupiah Tertekan

Penulis: Fajar  •  Rabu, 29 Juli 2026 | 09:07:20 WIB
Ekonom menilai independensi menjadi syarat utama calon Gubernur Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

SULAWESI TENGGARA — Dua ekonom memberikan pandangan serupa mengenai figur yang ideal untuk memimpin BI ke depan. Mereka menekankan bahwa kemampuan menjaga jarak dari intervensi politik sama pentingnya dengan kapasitas teknis di bidang moneter.

Rekam Jejak Moneter dan Daya Tahan Politik Jadi Modal Utama

Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menegaskan bahwa sedikit saja keraguan terhadap independensi gubernur BI akan langsung dihukum oleh pasar. "Kandidat baru harus memiliki rekam jejak moneter yang kuat dan kemampuan menjaga jarak dari tekanan politik, sebab sedikit saja keraguan terhadap independensi akan langsung masuk ke harga rupiah, biaya hedging, dan yield SBN," ujarnya kepada Bloomberg Technoz, Selasa (28/7/2026).

Senada dengan Syafruddin, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M. Rizal Taufikurahman, menyoroti pentingnya kredibilitas personal. Menurutnya, di tengah ketidakpastian global, reputasi seorang gubernur bisa menjadi instrumen kebijakan yang setara dengan suku bunga acuan alias BI-Rate.

Pasar Butuh Figur yang Berani Berpijak pada Data

Rizal menambahkan, gubernur BI yang dibutuhkan saat ini bukan hanya figur dengan kapasitas teknis yang kuat, tetapi juga memiliki kredibilitas tinggi di mata pasar dan memahami dinamika ekonomi global. Ia juga harus berpengalaman dalam kebijakan moneter serta mampu berkomunikasi secara jelas untuk mengelola ekspektasi pelaku pasar.

"Yang tidak kalah penting adalah keberanian mengambil kebijakan berdasarkan data dan mandat BI, bukan karena tekanan politik jangka pendek," tegas Rizal. Pernyataan ini muncul di tengah kekhawatiran bahwa tekanan politik bisa mengganggu stabilitas nilai tukar dan sistem keuangan nasional.

Mengapa Independensi Bank Sentral Begitu Krusial?

Tekanan terhadap independensi BI seringkali muncul saat kebijakan moneter bersinggungan dengan kepentingan fiskal atau politik jangka pendek, seperti menjelang tahun politik. Jika pasar menilai bank sentral kehilangan otonomi, risiko persepsi akan meningkat. Akibatnya, investor asing bisa menarik modalnya, nilai tukar rupiah terdepresiasi, dan biaya utang negara melalui SBN ikut membengkak.

Kedua ekonom sepakat bahwa kombinasi antara kapasitas teknis, pengalaman global, dan integritas personal adalah paket lengkap yang harus dimiliki calon gubernur BI. Pasar akan menanti keputusan siapa figur yang akan dipilih untuk mengemban amanah tersebut guna menjaga stabilitas ekonomi nasional. (Investasi mengandung risiko.)

Reporter: Fajar
Sumber: bloombergtechnoz.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top