KENDARI — Sebanyak 500 pohon Jeruk Siompu yang ditanam di lima titik di Kecamatan Siompu kini memasuki fase panen perdana. Panen raya yang digelar di kebun milik Ruslan Magu di Desa Biwinapada ini dipimpin langsung Ketua AMI, Prof. Hj. Husna, didampingi Prof. Dr. Faisal Danu Tuheteru, Dr. Dahlan, serta La Baali.
Jeruk Siompu merupakan varietas endemik Pulau Siompu yang populasinya terus menurun dan dikhawatirkan hilang dari habitat aslinya. Program penyelamatan ini lahir pada era kepemimpinan Gubernur Sultra Ali Mazi dan didanai melalui kerja sama AMI dengan Dinas Perkebunan dan Hortikultura Provinsi Sultra.
Secara alami, Jeruk Siompu yang ditanam dari biji membutuhkan waktu lima hingga tujuh tahun untuk mulai berbuah. Namun, melalui penerapan pupuk hayati mikoriza, tanaman mampu memasuki fase generatif sebelum berusia tiga tahun.
“Alhamdulillah hari ini kita bisa panen, kami sungguh bahagia. Artinya misi besar penyelamatan Jeruk Siompu yang didukung mantan Gubernur Sultra, Bapak H. Ali Mazi, berhasil berjalan dengan baik,” ujar Prof. Husna, Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan Universitas Halu Oleo, saat panen di kebun Ruslan Magu.
Prof. Husna mengungkapkan bahwa program konservasi Jeruk Siompu akan terus berlanjut. Ia menyebut telah dihubungi langsung oleh Ali Mazi untuk merencanakan kerja sama lanjutan melalui pendanaan dari pemerintah pusat.
“Pak Ali Mazi sangat senang mendengar panen raya ini. Insyaallah untuk pengembangan ke depan tadi saya sudah ditelepon Pak Ali Mazi, kalau bukan perubahan anggaran ini akan ada kerja sama lanjutan. Pulang dari sini langsung kita rapat,” katanya.
Ruslan Magu, pemilik kebun di Desa Biwinapada, mengaku bersyukur tanamannya kini telah menghasilkan buah. Menurutnya, pertumbuhan optimal didukung perawatan intensif seperti penggunaan pupuk kandang dan penimbunan akar yang muncul ke permukaan tanah.
“Tentu kami bersyukur sekali. Kami berharap program ini terus berlanjut untuk penyelamatan Jeruk Siompu, tentu dengan penyiapan fasilitas yang memadai,” harap Ruslan.
Panen raya perdana ini menjadi bukti kolaborasi antara akademisi, pemerintah daerah, dan masyarakat mampu menghidupkan kembali komoditas yang hampir punah. Jeruk Siompu dinilai memiliki nilai historis, budaya, dan potensi ekonomi tinggi sebagai komoditas hortikultura unggulan Sulawesi Tenggara.
Lahan penanaman tersebar di lima titik di Kecamatan Siompu dengan luas bervariasi, mulai dari seperempat hektare hingga satu hektare. Ke depan, program ini diharapkan memperkuat ketahanan plasma nutfah lokal sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di Pulau Siompu.