7 Curug di Sulawesi Tenggara yang Wajib Dikunjungi untuk Kabur dari Hiruk Pikuk Kota

Penulis: Yasir  •  Kamis, 06 Agustus 2026 | 18:08:31 WIB
Air Terjun Moramo di Konawe Selatan menampilkan formasi teras bertingkat dengan lebih dari 100 undakan alami.

Berbicara soal Sulawesi Tenggara, kebanyakan orang langsung tertuju pada pesona bawah laut Wakatobi atau karst Kendari. Padahal, bentang alam daratan di provinsi ini menyimpan banyak air terjun dengan kolam alami yang masih perawan. Sebagian besar lokasinya memang butuh perjuangan ekstra, tapi justru di situlah letak keindahannya—jauh dari hiruk pikuk, airnya dingin menyegarkan, dan suasana sekitarnya masih sangat alami.

Dari pengalaman menjelajahi beberapa titik di wilayah ini, saya menemukan bahwa setiap curug punya karakter berbeda. Ada yang mudah diakses hanya 15 menit dari jalan utama, ada juga yang butuh trekking menembus kebun warga. Berikut tujuh di antaranya yang layak masuk daftar kunjunganmu.

1. Air Terjun Moramo: Ikon Utama dengan Teras Bertingkat

Ini adalah curug paling terkenal di Sulawesi Tenggara, terletak di Kecamatan Moramo, Kabupaten Konawe Selatan. Yang membedakannya dari air terjun lain adalah formasi terasnya yang berundak—total ada lebih dari 100 tingkatan dengan ketinggian utama sekitar 100 meter. Airnya jatuh dari bebatuan travertine yang membentuk cekukan-cekukan alami, jadi kamu bisa mandi di "kolam" kecil di setiap undakannya.

Aksesnya cukup menantang. Dari pusat Kota Kendari, perjalanan darat memakan waktu sekitar 1,5–2 jam. Setelah tiba di pintu masuk kawasan, kamu masih harus berjalan kaki sekitar 30–45 menit menyusuri jalan setapak. Medannya tidak terlalu curam, tapi pastikan pakai alas kaki dengan grip yang kuat karena beberapa bagian licin oleh lumut.

2. Air Terjun Tumburano: Curug Tersembunyi di Konawe Utara

Tidak banyak wisatawan yang tahu tempat ini, dan justru itu nilai plusnya. Tumburano berada di kawasan hutan lindung, sekitar 60 kilometer dari Kota Kendari ke arah utara. Air terjunnya tidak terlalu tinggi, sekitar 25 meter, tapi kolam di bawahnya cukup dalam sehingga aman untuk berenang.

Hal yang paling saya ingat dari kunjungan ke sini adalah suasananya yang benar-benar sepi. Tidak ada warung di sekitar lokasi, jadi bawa bekal dan air minum sendiri. Jangan lupa cek kondisi cuaca sebelum berangkat—saat hujan deras, jalur tanah menuju lokasi berubah menjadi licin dan cukup berbahaya untuk kendaraan roda dua.

3. Air Terjun Lapake: Kombinasi Air Terjun dan Pemandian Alam

Berlokasi di Desa Lapake, Kecamatan Tongkuno, Kabupaten Muna, curug ini punya keunikan tersendiri karena dikelilingi bebatuan karst yang menjulang. Tingginya memang tidak spektakuler, sekitar 15 meter, tapi debit airnya sangat deras sepanjang tahun. Warga setempat membangun beberapa kolam penampungan di bawahnya yang aman untuk anak-anak.

Perjalanan dari Raha, ibu kota Kabupaten Muna, memakan waktu sekitar 40 menit. Jalan menuju lokasi sudah beraspal mulus, jadi cocok untuk kamu yang membawa keluarga. Di sekitar area parkir sudah ada beberapa warung kecil yang menjual gorengan dan minuman hangat—sangat membantu setelah berendam di air dingin.

4. Air Terjun Waemputang: Spot Foto dengan Latar Hutan Tropis

Nama Waemputang mulai dikenal beberapa tahun terakhir melalui media sosial, dan memang layak. Curug ini berada di Desa Wawatu, Kecamatan Moramo Utara, Konawe Selatan. Dengan ketinggian sekitar 30 meter, airnya jatuh langsung ke kolam berwarna hijau toska yang sangat fotogenik—terutama saat sinar matahari masuk di antara celah pepohonan sekitar pukul 9 hingga 11 pagi.

Yang perlu diingat, lokasinya masih di dalam area perkebunan warga. Kamu akan melewati kebun kakao dan cengkeh sebelum tiba di titik air terjun. Hati-hati dengan jalur yang agak menanjak, tapi secara keseluruhan masih ramah untuk pemula. Waktu terbaik berkunjung adalah hari kerja, karena akhir pekan biasanya ramai oleh warga lokal yang juga ingin menikmati suasana.

5. Air Terjun Kalo: Kejernihan Air di Jantung Konawe

Tersembunyi di Kecamatan Amonggedo, Kabupaten Konawe, air terjun Kalo menawarkan pengalaman yang berbeda. Airnya sangat jernih dan dingin—suhunya bisa mencapai 15–18 derajat Celsius saat pagi hari. Ketinggiannya sekitar 20 meter, dengan aliran yang membentuk tirai air lebar daripada satu titik jatuh.

Untuk mencapai lokasi, kamu harus menyusuri sungai kecil sekitar 15 menit dari titik parkir. Ini bagian yang menyenangkan karena kamu bisa melihat langsung habitat ikan air tawar lokal yang masih lestari. Pastikan untuk datang sebelum pukul 10 pagi jika ingin mendapatkan air yang paling jernih, karena setelah itu biasanya mulai banyak aktivitas warga yang mandi dan mencuci.

6. Air Terjun Oheo: Keindahan di Wilayah Buton Utara

Berada di Kecamatan Kulisusu Barat, Kabupaten Buton Utara, curug ini masih sangat jarang dikunjungi wisatawan luar daerah. Air terjunnya memiliki ketinggian sekitar 40 meter dan jatuh melalui tebing batu yang curam. Suara gemuruh airnya sudah terdengar dari jarak beberapa ratus meter—sangat dramatis.

Akses menuju lokasi cukup menantang. Dari pusat kota Buranga, perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam menggunakan sepeda motor. Jalanannya sebagian masih berupa tanah dan berbatu. Untuk kamu yang membawa mobil, sebaiknya parkir di area perkampungan dan melanjutkan dengan berjalan kaki atau menyewa motor warga setempat.

7. Air Terjun Watu Watu: Curug Kecil dengan Pesona Lokal

Berlokasi di Kelurahan Watuliu, Kecamatan Bungi, Kota Baubau, curug ini mungkin yang paling mudah diakses dari daftar ini. Hanya butuh sekitar 20 menit dari pusat Kota Baubau dengan kendaraan bermotor. Tingginya memang hanya sekitar 10 meter, tapi suasana di sekitarnya sangat asri—dikelilingi kebun campuran dan semak belukar yang rimbun.

Tempat ini lebih cocok untuk piknik santai daripada petualangan berat. Banyak keluarga lokal datang ke sini pada akhir pekan untuk sekadar duduk-duduk di bebatuan sambil menikmati suara gemericik air. Jika kamu kebetulan sedang singgah di Baubau, sempatkan mampir ke sini untuk melepas penat sebelum melanjutkan perjalanan ke Wakatobi.

Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Berkunjung

Berdasarkan pengalaman saya berkeliling ke beberapa curug di Sulawesi Tenggara, ada beberapa hal yang sebaiknya kamu siapkan. Pertama, selalu cek kondisi cuaca minimal tiga hari sebelum berangkat. Debit air di sebagian besar curug di sini naik drastis setelah hujan deras—ini bisa membahayakan keselamatanmu. Kedua, bawa uang tunai secukupnya karena sinyal seluler di banyak lokasi tidak stabil dan tidak semua tempat menerima pembayaran digital.

Ketiga, jangan pernah datang sendirian ke lokasi yang belum pernah kamu kunjungi. Sebaiknya ajak warga lokal sebagai pemandu—selain lebih aman, kamu juga akan mendapat cerita menarik tentang sejarah dan mitos di balik setiap curug. Terakhir, bawa pulang sampahmu sendiri. Sebagian besar lokasi belum memiliki pengelolaan sampah yang memadai.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah semua air terjun di Sulawesi Tenggara aman untuk berenang?
Tidak semuanya. Air Terjun Moramo dan Tumburano memiliki area kolam yang cukup aman, tapi untuk curug seperti Oheo, arusnya sangat deras dan tidak disarankan berenang terlalu dekat dengan titik jatuh air. Selalu patuhi rambu atau arahan warga setempat.

Kapan waktu terbaik untuk mengunjungi curug-curug ini?
Musim kemarau, sekitar bulan Agustus hingga November, adalah waktu paling ideal. Debit air stabil, jalur tidak licin, dan airnya lebih jernih. Hindari berkunjung saat puncak musim hujan antara Desember hingga Februari.

Apakah semua lokasi bisa dijangkau dengan kendaraan pribadi?
Sebagian besar bisa, tapi untuk Air Terjun Oheo dan Waemputang, disarankan menggunakan sepeda motor karena jalannya sempit dan berbatu. Untuk rombongan besar, sebaiknya sewa kendaraan lokal yang sudah familiar dengan medan.

Berapa biaya masuk ke lokasi-lokasi tersebut?
Biaya masuk bervariasi tergantung pengelola setempat dan bisa berubah sewaktu-waktu. Sebaiknya siapkan uang tunai dalam jumlah wajar dan tanyakan langsung kepada petugas atau warga di lokasi sebelum masuk.

Apakah ada penginapan di dekat lokasi curug?
Untuk Air Terjun Moramo, sudah ada beberapa homestay di sekitar kawasan. Untuk lokasi lainnya, pilihan penginapan masih sangat terbatas, jadi lebih realistis jika kamu menginap di kota terdekat seperti Kendari, Raha, atau Baubau, lalu berkunjung sebagai perjalanan harian.

Setiap curug di Sulawesi Tenggara menyimpan karakter dan tantangannya masing-masing. Yang paling penting bukan sekadar sampai di lokasi, tapi bagaimana kamu menikmati proses perjalanannya—melewati kebun warga, menyeberangi sungai kecil, dan mendengar cerita dari penduduk sekitar. Itulah bagian yang tidak akan pernah bisa kamu dapatkan dari foto atau video di media sosial.

Pertanyaan Seputar Berita Ini

Air terjun m?
na yang cocok dikunjungi bersama keluarga di Kabupaten Muna? A: Air Terjun Lapake di Desa Lapake, Kecamatan Tongkuno, Kabupaten Muna, cocok untuk keluarga karena akses jalannya sudah beraspal mulus dan terdapat kolam penampungan yang aman untuk anak-anak.

Reporter: Yasir
Back to top