Uber Kucurkan US$10 Miliar untuk Jaringan Robotaxi Global, Tantang Strategi Vertikal Tesla

Penulis: Saiful  •  Jumat, 07 Agustus 2026 | 06:19:01 WIB
Uber mengalokasikan lebih dari US$10 miliar untuk ekspansi jaringan robotaxi global melalui investasi ekuitas dan pembelian armada kendaraan otonom.

SULAWESI TENGGARA — Investasi senilai lebih dari US$10 miliar itu dialokasikan dalam dua bentuk. Sekitar US$2,5 miliar digelontorkan sebagai investasi ekuitas ke perusahaan seperti Lucid, Rivian, Nuro, dan Wayve. Sisanya, sekitar US$7,5 miliar, disiapkan untuk pembelian armada kendaraan otonom. Dengan dana tersebut, Uber kini menggandeng lebih dari 30 perusahaan mitra di seluruh dunia, mencakup robotaxi, robot pengiriman, hingga truk otonom.

Target Ekspansi 28 Kota pada 2028

Layanan robotaxi Uber tercatat sudah aktif di tujuh kota hingga akhir Q2 2026. Perusahaan menargetkan ekspansi ke 15 kota pada akhir tahun ini dan 28 kota pada 2028. CEO Dara Khosrowshahi menegaskan perusahaan tidak ingin bergantung pada satu mitra tunggal.

"Kami ingin membangun ekosistem multi-mitra agar risiko teknologi, regulasi, dan operasional dapat tersebar lebih luas," ujar Khosrowshahi. Strategi tersebut juga tercermin dalam kesepakatan terbaru dengan Stellantis dan Wayve untuk mengembangkan robotaxi Level 4 secara global.

Model Aset Ringan vs Beban Kapitalisasi Penuh

Pendekatan Uber jelas berbeda dengan Tesla yang memilih jalur vertikal. Tesla mengembangkan hampir seluruh ekosistem robotaxi secara internal, mulai dari kendaraan Cybercab tanpa setir dan pedal, software Full Self-Driving (FSD), chip AI Hardware 5, hingga aplikasi pemesanan. Produksi Cybercab baru dimulai pada April 2026 di Giga Texas, dengan 34 unit uji tanpa kontrol pengemudi di jalanan Austin.

Konsekuensi dari strategi vertikal itu terlihat dari laporan keuangan Tesla. Belanja modal melonjak 142 persen menjadi US$5,79 miliar pada kuartal tersebut, sementara free cash flow tercatat negatif US$1,09 miliar. Operating margin juga menyusut dari 4,1 persen menjadi 1,4 persen, dan non-GAAP EPS hanya menyentuh US$0,33—di bawah konsensus pasar US$0,55.

Keunggulan Data FSD Tesla Sulit Ditandingi

Meski arus kas tertekan, Tesla masih memegang kartu truf berupa skala data. Hampir 12 miliar mil data kumulatif FSD menjadi fondasi pelatihan AI yang sulit ditandingi kompetitor. Jumlah pelanggan berbayar FSD juga tumbuh 56 persen secara tahunan menjadi 1,48 juta orang, dengan rekor pengiriman 480.126 kendaraan pada Q2 2026.

Dari sisi finansial, Tesla masih memiliki kas US$43,5 miliar di neraca. Namun, laju pembakaran kas yang terjadi sulit dipertahankan tanpa kontribusi pendapatan baru yang signifikan dari robotaxi dan FSD. Sementara itu, model asset-light Uber justru mencatatkan free cash flow trailing 12 bulan yang untuk pertama kalinya menembus US$10 miliar.

Risiko Kemitraan vs Risiko Eksekusi

Model Uber memang tidak membebani perusahaan dengan risiko riset dan pengembangan teknologi otonom, karena tanggung jawab tersebut berada di pundak mitra. Fokus Uber lebih ke distribusi, basis pengguna, pencocokan permintaan, dan pengelolaan jaringan. Namun, kelemahannya, Uber tidak memiliki kendali penuh terhadap kecepatan pengembangan teknologi mitra. Hubungan kemitraan juga tidak selalu stabil—Waymo sempat mengakhiri kerja sama di Phoenix pada awal tahun.

Tesla, sebaliknya, memegang kendali atas hampir seluruh rantai nilai robotaxi—kendaraan, software, chip, data, hingga platform distribusi. Konsekuensinya, seluruh biaya investasi dan risiko eksekusi ditanggung sendiri. Dengan valuasi sekitar 272 kali P/E, pasar tampaknya sudah memperhitungkan keberhasilan strategi berisiko tinggi ini. Dua pendekatan berbeda, dua pertaruhan besar—mana yang lebih realistis akan terjawab dalam beberapa tahun ke depan.

Reporter: Saiful
Sumber: xtb.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top