Harga Bitcoin diprediksi mampu kembali ke level US$125.000 pada akhir tahun 2026. Hal ini disampaikan firma riset Bernstein yang menilai rebound terbaru menjadi sinyal berakhirnya siklus bearish.
Bernstein mencatat Bitcoin telah naik sekitar 28 persen dalam sepuluh hari, setelah sebelumnya sempat turun sekitar 50 persen dari puncaknya di Oktober 2025.
Analisis ini didasarkan pada siklus empat tahunan Bitcoin yang berkaitan dengan halving, yang membagi pergerakan harga menjadi fase breakout, hype, drawdown, dan accumulation.
Bernstein juga memakai biaya marginal produksi sebagai acuan. Biaya ini adalah estimasi biaya yang dibutuhkan miner berdaya efisiensi paling rendah untuk memproduksi Bitcoin baru, yang lantas dibandingkan dengan harga BTC di setiap siklus.
Peran investor institusi dan perusahaan juga disorot dinilai semakin besar dalam memegang Bitcoin. Kehadiran mereka disebut memberikan dukungan lebih besar saat harga turun, membuat penurunan siklus ini lebih dangkal.
Bitcoin tercatat turun sekitar 50 persen dari puncaknya di Oktober 2025, jauh lebih kecil dibanding siklus sebelumnya yang pernah mencatat penurunan 75 hingga 90 persen.
Untuk jangka panjang, target Bitcoin ditaruh di sekitar US$1 juta pada 2033. Skenario dasar memproyeksikan BTC menyentuh US$150.000 pada pertengahan 2027 dan berpuncak sekitar US$300.000 pada 2029.
Skenario optimistis mematok US$200.000 pada pertengahan 2027 dan US$500.000 pada 2029.
Seluruh proyeksi tersebut bersifat berdasarkan model dan skenario pasar, bukan kepastian harga. Investor tetap disarankan berhati-hati dalam berinvestasi aset digital.