Pemerintah Kota Baubau, Sulawesi Tenggara, melatih tenaga Ahli Teknologi Laboratorium Medik (ATLM) untuk memperketat deteksi dini malaria di fasilitas kesehatan. Pelatihan penyegaran mikroskopis ini digelar untuk menjaga status Baubau sebagai salah satu dari 401 daerah di Indonesia yang berhasil mempertahankan predikat eliminasi malaria di tengah lonjakan kasus nasional.
BAUBAU — Dinas Kesehatan Kota Baubau menggandeng Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Provinsi Sulawesi Tenggara untuk menyegarkan keterampilan mikroskopis para tenaga laboratorium. Langkah ini menjadi garda terdepan mencegah penularan kembali (re-emergence) penyakit malaria yang masih mengintai daerah berstatus eliminasi.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Baubau, Yuslina, menegaskan bahwa status bebas malaria bukanlah pencapaian final. Wilayah yang sudah eliminasi tetap punya risiko tinggi terjadinya penularan ulang jika deteksi dini diabaikan.
"Keberhasilan eliminasi ini harus terus kita pertahankan, karena daerah yang telah mencapai status eliminasi tetap memiliki risiko terjadinya penularan kembali," kata Yuslina saat dihubungi di Kendari, Selasa.
Pelatihan ini digelar di tengah kondisi nasional yang mengkhawatirkan. Secara nasional, kasus malaria melonjak dari 543.965 kasus pada 2024 menjadi 706.297 kasus pada 2025. Artinya, terjadi peningkatan lebih dari 160 ribu kasus hanya dalam setahun.
Di tengah tren kenaikan itu, Kota Baubau justru masuk dalam daftar 401 kabupaten/kota yang mempertahankan status eliminasi. Capaian ini disebut Yuslina tidak bisa dipertahankan tanpa penguatan kapasitas petugas di lapangan.
Pemkot Baubau kini mewajibkan seluruh penderita malaria klinis yang ditemukan di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) untuk menjalani pemeriksaan konfirmasi laboratorium. Pemeriksaan dilakukan secara mikroskopis atau menggunakan Rapid Diagnostic Test (RDT).
Kebijakan ini dinilai krusial untuk memutus rantai pengobatan tanpa