KENDARI — Wakil Rektor I Universitas Halu Oleo (UHO) Bidang Akademik, Prof. Dr. La Ode Santiaji Bande, S.P., M.P., resmi membuka Seminar Serantau Isu-Isu Komuniti (SSIK) 2026 Series VI di Hotel Claro Kendari, Selasa (1/9/2026). Mengusung tema "Strengthening Community Resilience Amid Global Uncertainty, Crisis, and Conflict", seminar ini menjadi ruang akademik untuk mengkaji persoalan perubahan iklim, ketidakpastian global, hingga konflik sosial yang dihadapi masyarakat.
Kegiatan ini melibatkan akademisi dan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi. Selain UHO sebagai tuan rumah, hadir pula perwakilan Universitas Teuku Umar, Universitas Abulyatama, dan Universiti Putra Malaysia (UPM).
Keterlibatan kampus dari berbagai daerah dan negara dinilai mampu memperluas jejaring akademik sekaligus membuka peluang kolaborasi baru. Prof. La Ode Santiaji Bande menyebut forum ini merupakan wujud nyata kerja sama internasional dalam bidang tridharma perguruan tinggi.
Menurut Prof. La Ode, kolaborasi yang terjalin melalui SSIK bukan sekadar seremoni. Ia menyebut kegiatan ini telah menghasilkan penelitian dan publikasi ilmiah bersama antarperguruan tinggi.
"Tadi juga saya dibagikan buku hasil kegiatan-kegiatan ini. Mereka melakukan penelitian bersama, publikasi bersama. Saya kira itu sangat penting sekali, sehingga jaringan kerja sama tetap terbuka dan semakin lebar," jelasnya di sela-sela acara.
Ia menambahkan, pengalaman seperti ini penting bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan akademik mereka melalui interaksi langsung dengan akademisi dan mahasiswa dari kampus mitra di luar negeri.
Rangkaian SSIK 2026 tidak hanya berhenti di ruang seminar. Panitia mengarahkan kegiatan pada kunjungan lapangan ke tengah masyarakat untuk melihat secara langsung berbagai persoalan yang dihadapi komunitas.
Pendekatan ini diharapkan dapat menghubungkan diskusi akademik dengan realitas di lapangan. Dari temuan tersebut, peserta dapat merumuskan strategi pencegahan masalah yang berkelanjutan, khususnya terkait isu lingkungan dan ketahanan sosial.
"Intinya adalah menemukan beberapa masalah, isu-isu perubahan, termasuk perubahan iklim, kemudian konflik sosial. Ini sangat penting sekali untuk kemudian bisa merumuskan strategi pencegahan masalah yang berkelanjutan," ujar Prof. La Ode.
Lebih lanjut, Prof. La Ode menilai forum ini membuka peluang mobilitas mahasiswa dan dosen antarnegara. Ia berharap kolaborasi yang sudah berjalan dapat terus dikembangkan agar manfaatnya semakin luas bagi kampus dan masyarakat.
"Ini bisa membuka wawasan mereka, bisa berkunjung ke Malaysia, bisa mengenal dan mendapatkan pengalaman. Jadi, dampaknya cukup tinggi," pungkasnya.