Presiden Prabowo Subianto meminta aparatnya menggeser paradigma dari responsif menjadi antisipatif. Ia menekankan pentingnya kesiapan sarana sebelum bencana terjadi. Arahan itu disampaikan dalam rapat terbatas yang dipantau dari Jakarta, Senin.
JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto memerintahkan penguatan kesiapan pemerintah dalam menghadapi bencana, bukan sekadar respons saat kejadian berlangsung. Arahan itu ia sampaikan saat memimpin rapat terbatas penanganan sejumlah bencana di Indonesia, Senin. Rapat tersebut dipantau secara daring melalui siaran langsung Sekretariat Presiden di Jakarta.
Dalam rapat itu, Prabowo mengubah paradigma perencanaan penanggulangan bencana. Ia menegaskan, ketersediaan peralatan harus dipersiapkan jauh hari sebelum kondisi darurat muncul.
"Saya minta pemikiran kita dalam perencanaan kita gunakan prinsip ya, lebih baik lebih, daripada kurang," ujar Presiden.
Prinsip itu, menurut Presiden, menjadi dasar dalam merencanakan kebutuhan sarana dan prasarana. Hal ini penting agar pemerintah memiliki kesiapan memadai sebelum bencana terjadi, termasuk dalam menghadapi kebakaran hutan.
Prabowo secara spesifik menyoroti perlunya penambahan peralatan berat dan pendukung pemadaman. Ia menyebut tiga jenis alat yang perlu diperbanyak jumlahnya.
"Lebih banyak helikopter lebih baik, lebih banyak pompa air lebih baik, lebih banyak pemadam kebakaran lebih baik," katanya.
Menurut Presiden, ketersediaan peralatan tersebut harus dipersiapkan sebelum bencana terjadi. Dengan begitu, pemerintah dapat memberikan respons cepat ketika kondisi darurat muncul. "Jadi, kita siap sebelum kejadian," ucapnya.
Instruksi lain yang ditegaskan Prabowo adalah penempatan alat berat di level pemerintahan paling bawah. Ia meminta pemerintah menyiapkan lebih banyak ekskavator berukuran kecil yang dapat ditempatkan di tingkat desa.
Langkah ini dinilai penting, khususnya untuk wilayah yang secara historis kerap mengalami kebakaran hutan. Dengan demikian, penanganan awal dapat dilakukan lebih cepat oleh perangkat desa setempat.
Untuk merealisasikan arahan tersebut, Presiden meminta tiga menteri menyiapkan perencanaan kebutuhan sarana penanganan bencana secara lebih optimal. Mereka adalah Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, dan Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy.
Lebih lanjut, Prabowo meminta kebutuhan tersebut dituangkan dalam master plan penanggulangan bencana yang menyeluruh dan masif. "Jadi nanti kita siapkan master plan yang menyeluruh dan yang masif," kata Prabowo.