SULAWESI TENGGARA — Profesor Jiang Xueqin, akademisi kelahiran China berkewarganegaraan Kanada yang dijuluki "Nostradamus-nya China", memprediksi serangan mirip 9/11 akan kembali menyasar Amerika Serikat. Dalam wawancara di podcast The Diary of A CEO, ia menyebut targetnya bukan gedung, melainkan infrastruktur keuangan AS. Prediksi itu ia sampaikan bersama sejumlah ramalan lain soal keruntuhan peradaban dalam 20 tahun ke depan.
Jiang Xueqin bukan nama asing di kalangan pengamat geopolitik. Lulusan Yale itu dikenal lewat kanal YouTube Predictive History, tempat ia membedah pola sejarah untuk menyusun proyeksi masa depan. Dalam penampilannya di podcast Steven Bartlett, ia mengklaim beberapa ramalannya sejak 2024 sudah terbukti.
Xueqin adalah pendidik kelahiran China yang kini berkewarganegaraan Kanada. Julukan "Nostradamus-nya China" melekat karena kebiasaannya membuat prediksi besar soal politik dan ekonomi global.
Metodenya bukan penglihatan mistis. Ia mempelajari pola, insentif, dan perilaku lembaga di masa lalu, lalu menarik kemungkinan ke depan. Pendekatan itu yang ia bawa saat berbicara di The Diary of A CEO awal tahun ini.
Xueqin membayangkan skenario yang jauh dari gambaran serangan 11 September 2001. Menurutnya, jika aksi serupa terulang, sasarannya adalah infrastruktur keuangan Amerika Serikat.
"Jika terjadi serangan (serupa) 9/11 lagi di Amerika Serikat, saya yakin itu akan menjadi serangan terhadap infrastruktur keuangan AS," ujarnya dalam podcast tersebut.
Ia lalu memberi ilustrasi sederhana kepada Bartlett. Suatu hari seseorang membuka iPhone untuk membeli kopi, perangkat gagal memindai, dan orang itu mengira ada masalah dengan bank.
Telepon ke bank tak dijawab. Setelah berjam-jam cemas, barulah muncul kesadaran bahwa server data keuangan AS telah diserang. Saldo di rekening lenyap, dan tak ada yang tahu berapa lama pemulihannya.
Dalam pandangan Xueqin, serangan semacam itu akan melempar jutaan orang ke panik luar biasa. Namun ia menambahkan, peradaban bisa lebih dulu runtuh sebelum skenario itu terwujud.
Prediksi lain Xueqin sama gelapnya. "Saya pikir kita hidup di zaman ketika dunia sedang runtuh," katanya.
Ia berargumen, manusia sudah mencapai puncak kemajuan teknologi dan tak bisa melangkah lebih jauh. Alasannya, kemajuan teknologi butuh spesialisasi lebih besar sekaligus globalisasi yang lebih dalam.
Yang terjadi justru sebaliknya. Perang di Iran, menurut Xueqin, akan memicu rangkaian peristiwa yang memaksa setiap negara bersikap jauh lebih umum.
"Kita tidak sedang mengalami Perang Dunia III. Kita tidak sedang mengalami pergeseran tatanan global. Kita akan mengalami keruntuhan peradaban itu sendiri dalam 20 tahun ke depan," tegasnya.
Xueqin merinci tiga pemicu utama: ketidaksetaraan yang masif, utang, dan polarisasi. Ketiganya ia sebut sebagai unsur paling dasar dari sebuah peradaban.
Ia membandingkannya dengan keruntuhan Zaman Perunggu. Saat itu perubahan iklim memicu kelaparan, mendorong migrasi ke daerah yang masih punya pangan, dan membuat sistem kewalahan hingga dunia kehilangan ketertiban.
"Jadi ketika sistem itu runtuh, seluruh dunia pun runtuh," ujarnya. "Semua ini adalah unsur-unsur peradaban yang sangat mendasar. Saya yakin bahwa kita sedang menyaksikan runtuhnya peradaban."
Xueqin mengakui posisinya kontroversial. "Saya pikir ada banyak orang yang tidak menyukai apa yang saya katakan. Saya adalah salah satu tokoh yang paling kontroversial di dunia saat ini. Tapi saya mencoba mempersiapkan semua orang," tutupnya.