KENDARI — Pelatihan digelar bersama Unit Penunjang Akademik (UPA) Kebun Ilmu Hayati (KIH)/Kebun Raya UHO. Peserta tidak hanya dibekali teori ruang kelas, tetapi diterjunkan langsung mengenali jenis pohon dan tumbuhan di kawasan konservasi tersebut.
Kepala UPA Kebun Ilmu Hayati UHO, Prof. Dr. Faisal Danu Tuheteru, menyebut pelatihan menyasar kapasitas mahasiswa dan dosen dalam mengidentifikasi tumbuhan. Fokusnya adalah jenis-jenis yang tumbuh di Kebun Raya UHO.
"Untuk meningkatkan pengetahuan dan kapasitas peserta, terutama mahasiswa UHO dan dosen UHO, bagaimana cara mengidentifikasi tumbuhan, pohon, terutama yang ada di Kebun Raya," kata Prof Faisal usai pembukaan kegiatan.
Pada hari pertama, peserta menerima materi pengenalan dan teknik identifikasi tumbuhan Wallacea. Materi lain menyangkut teknik pembuatan herbarium tumbuhan sebagai bekal sebelum turun ke lapangan.
Selama tiga hari berikutnya, mahasiswa mengamati berbagai jenis tanaman dan mencatat ciri-cirinya. Sampel berupa ranting dan daun diambil untuk mendukung proses identifikasi.
Prof Faisal menilai proses lapangan penting agar mahasiswa bisa menghubungkan materi pelatihan dengan kondisi tumbuhan sesungguhnya.
"Jadi nanti mereka mengambil sampel tanaman, ranting, daun, lalu belajar mendeskripsikan ciri-cirinya. Kemudian mereka akan bawa ke Pak Wihermanto untuk divalidasi," jelasnya.
Selain meningkatkan kemampuan peserta, pelatihan bertujuan mendata sekaligus memvalidasi jenis tumbuhan di Kebun Raya UHO. Sejumlah tumbuhan sebelumnya sudah diidentifikasi, tetapi masih perlu dipastikan ketepatan jenisnya.
Hasil identifikasi mahasiswa nantinya divalidasi untuk memastikan nama dan jenis tumbuhan yang ditemukan benar. Proses itu sekaligus menjadi kesempatan mahasiswa mempelajari teknik identifikasi langsung dari ahli botani.
Wihermanto dihadirkan karena pengalamannya mengeksplorasi tumbuhan di berbagai wilayah Indonesia, termasuk kawasan Wallacea dan Sulawesi.
"Beliau ahli botani dan hampir seluruh wilayah Indonesia sudah keliling karena memang untuk kepentingan mengeksplorasi kekayaan tumbuhannya. Beliau juga banyak pengalaman eksplorasi di wilayah Wallacea, wilayah Sulawesi," ujar Prof Faisal.
Kegiatan ini menjadi bagian upaya FHIL UHO dan UPA Kebun Ilmu Hayati memperkuat fungsi Kebun Raya UHO sebagai laboratorium pembelajaran dan penelitian. Data tumbuhan yang telah divalidasi dapat dipakai sebagai rujukan praktikum maupun penelitian mahasiswa.
Prof Faisal menekankan pentingnya akurasi identifikasi agar tidak terjadi kesalahan berulang dalam pendataan koleksi.
"Kebun Raya UHO itu kan laboratoriumnya. Jangan sampai ada salah identifikasi yang menjadi kesalahan berulang. Kami ingin memastikan jenis pohon yang ada di Kebun Raya benar, kemudian didata dan diberi barcode," pungkasnya.