Pertamina EP Jatibarang Pangkas CO2 65% Jadi 5% di SP Akasia Bagus

Penulis: Sutomo  •  Sabtu, 26 September 2026 | 11:50:31 WIB
Fasilitas SP Akasia Bagus Tahap 1 di Indramayu menurunkan kadar CO2 gas dari 65 persen menjadi 5 persen.

SULAWESI TENGGARA — Pertamina EP Jatibarang Field mengoperasikan Akasia Bagus Gathering Station (SP ABG) Tahap 1 di Indramayu, fasilitas pertama di Indonesia yang mampu menurunkan kadar CO2 dari 65 persen menjadi 5 persen. Teknologi ini menjadi bagian dari upaya Subholding Upstream Pertamina mendongkrak produksi energi nasional sekaligus mendukung program Asta Cita pemerintah. Keberhasilan pemangkasan emisi karbon berskala besar ini berpotensi menjadi acuan bagi lapangan migas lain di Tanah Air.

Paragraf pembuka: Pembangunan SP ABG Tahap 1 masuk dalam daftar proyek strategis Subholding Upstream Pertamina. Lapangan Akasia Bagus sendiri berada di wilayah operasi Pertamina EP Jatibarang Field, salah satu lapangan tua di pesisir utara Jawa Barat yang masih menyimpan cadangan gas cukup besar.

Teknologi Pertama di Indonesia

Fasilitas SP ABG dirancang untuk memisahkan karbon dioksida dari gas alam sebelum dialirkan ke jaringan pipa. Kadar CO2 pada gas mentah di lapangan ini tergolong ekstrem, mencapai 65 persen. Angka itu jauh di atas standar gas jual yang biasanya hanya mentoleransi kandungan CO2 di kisaran 5 persen.

Proses penurunan kadar CO2 dari 65 persen ke 5 persen inilah yang membuat SP ABG disebut sebagai satu-satunya di Indonesia. Teknologi pemisahan karbon dengan rentang sebesar itu belum diterapkan di fasilitas produksi migas lain di dalam negeri.

Mengapa Proyek Ini Penting

Pemerintah menargetkan peningkatan kapasitas produksi energi sebagai bagian dari program Asta Cita. Subholding Upstream Pertamina menempatkan pengembangan Lapangan Akasia Bagus sebagai salah satu proyek andalan untuk mencapai target tersebut.

Gas alam dengan kandungan CO2 rendah lebih mudah dijual, dialirkan melalui pipa, dan diolah menjadi bahan bakar maupun bahan baku industri. Tanpa fasilitas pemisahan seperti SP ABG, gas berkadar CO2 tinggi sulit dimanfaatkan secara komersial dan cenderung dibakar begitu saja.

Dampak ke Produksi dan Lingkungan

Pemisahan CO2 di SP ABG memungkinkan gas dari Lapangan Akasia Bagus masuk ke sistem penjualan dengan spesifikasi yang diterima pembeli. Artinya, cadangan gas yang sebelumnya sulit dimonetisasi kini punya jalur keluar yang jelas.

Dari sisi lingkungan, penangkapan CO2 di fasilitas produksi mengurangi volume karbon yang lepas ke atmosfer. Langkah ini sejalan dengan dorongan global untuk menekan emisi dari sektor hulu migas, sekaligus memperpanjang usia ekonomis lapangan-lapangan tua di Jawa Barat.

Apa Langkah Selanjutnya

SP ABG Tahap 1 baru tahap awal. Pertamina EP Jatibarang Field masih membuka ruang pengembangan lanjutan untuk meningkatkan kapasitas pemrosesan gas di kawasan Akasia Bagus.

Keberhasilan fasilitas ini menjadi uji coba penting bagi Pertamina dalam mengelola lapangan dengan kandungan CO2 tinggi. Jika terbukti berjalan stabil, skema serupa bisa direplikasi ke lapangan migas lain yang menghadapi tantangan kadar karbon tinggi.

Penutup: Bagi Pertamina, SP ABG bukan sekadar proyek teknis, melainkan bukti bahwa lapangan migas dengan kadar CO2 ekstrem masih bisa dikelola secara komersial. Keberhasilannya akan menentukan seberapa cepat Indonesia bisa mengubah cadangan gas yang menantang menjadi produksi nyata.

Reporter: Sutomo
Sumber: dunia-energi.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top