SULAWESI TENGGARA — Bayi baru lahir butuh menyusu 8–12 kali sehari, jadi jangan kaget kalau ibu harus membangunkannya tiap 2–3 jam, termasuk malam hari. Panduan berikut membahas kapan bayi perlu dibangunkan, sampai usia berapa kebiasaan ini berlaku, dan cara melakukannya dengan lembut.
Melihat si Kecil tidur pulas memang bikin ibu serba salah. Di satu sisi ingin membiarkannya istirahat, di sisi lain khawatir ia melewatkan jadwal menyusu.
Kabar baiknya, membangunkan bayi untuk menyusu bukan hal yang salah, terutama di minggu-minggu awal kelahiran. Kebanyakan bayi baru lahir sempat mengalami penurunan berat badan dan perlu sering disusui agar berat badannya kembali naik.
Mayo Clinic menyebut, membangunkan si Kecil untuk menyusu boleh-boleh saja, apalagi di masa awal kelahiran. Australian Breastfeeding Association juga menegaskan, membangunkan bayi perlu dilakukan jika ia belum cukup sering menyusu, terutama pada minggu-minggu pertama.
Sebaliknya, kalau bayi sudah cukup sering menyusu, berat badannya naik dengan baik, dan payudara ibu tidak terasa penuh, membiarkannya tidur lebih lama tidak masalah. Tidak ada aturan kaku yang melarang ibu membangunkan bayi untuk menyusu.
Sebagian besar bayi baru lahir membutuhkan 8–12 kali menyusu dalam sehari. Semakin sering disusui, semakin cepat berat badan lahirnya kembali tercapai dan produksi ASI ibu pun terjaga.
Ada alasan lain yang tak kalah penting: menangis adalah tanda lapar yang sebenarnya sudah terlambat. Semakin awal ibu memulai sesi menyusui, semakin kecil kemungkinan si Kecil rewel karena kelaparan.
Sebagian besar dokter anak menyarankan ibu membangunkan bayi begitu sudah waktunya menyusu, baik siang maupun malam. Bayi sebaiknya tidak dibiarkan tanpa menyusu lebih dari empat jam.
Begitu bayi menunjukkan pola kenaikan berat badan yang baik dan sudah mencapai kembali berat badan lahirnya, ibu umumnya boleh menunda waktu menyusu sampai ia bangun sendiri. Kondisi ini biasanya tercapai dalam 1–2 minggu setelah lahir.
Secara umum, semakin besar usia bayi, semakin jarang ia perlu dibangunkan untuk menyusu. Begitu bayi tumbuh lebih besar dan pola tidurnya lebih teratur, tubuhnya sudah lebih siap mengatur sendiri kapan ia lapar.
Meski begitu, ibu tetap perlu memperhatikan tanda kecukupan ASI, seperti jumlah popok basah dan kenaikan berat badan si Kecil.
Bayi baru lahir umumnya membutuhkan satu kali menyusu setiap 2–3 jam, sehingga totalnya bisa mencapai 8–12 kali sehari. Bayi setidaknya perlu menyusu 8 kali dalam 24 jam, termasuk pada malam hari.
Patokan umum yang sering dipakai dokter anak adalah jangan biarkan bayi tidur lebih dari empat jam tanpa menyusu. Jika si Kecil sudah melewati batas waktu ini, saatnya ibu membangunkannya.
Semakin bertambah usia bayi, jarak antarwaktu menyusu ini akan semakin panjang dengan sendirinya. Jadi, ibu tidak perlu khawatir jadwal ini berlaku selamanya.
Ada beberapa cara yang bisa ibu coba agar si Kecil terbangun tanpa kaget atau rewel:
Ada beberapa tanda yang perlu ibu perhatikan, seperti bayi sulit dibangunkan, tubuhnya lemas, jumlah popok basah berkurang, atau berat badannya naik dengan lambat. Jika muncul tanda-tanda ini, jangan ragu berkonsultasi dengan dokter anak.
Kekhawatiran soal kecukupan ASI sebaiknya tidak dipendam sendiri. Dokter anak bisa membantu mengevaluasi pola menyusu dan kenaikan berat badan si Kecil secara lebih menyeluruh.
Membangunkan bayi untuk menyusu di minggu-minggu awal bukan kebiasaan yang perlu diperdebatkan. Ini cara praktis memastikan berat badannya kembali naik dan produksi ASI ibu tetap stabil. Begitu pola kenaikan berat badan si Kecil bagus, ibu bisa lebih santai membiarkannya tidur sampai bangun sendiri.