Lembaga Pemasyarakatan Perempuan Kelas III Kendari membekali 43 warga binaan dengan pelatihan produksi tempe dan pupuk organik cair untuk mendorong kemandirian ekonomi setelah masa hukuman. Pelatihan yang digelar di Kendari, Sulawesi Tenggara, ini merupakan tindak lanjut program pembinaan kemandirian bersama Peserta Magang Kementerian Ketenagakerjaan Batch I Tahun 2026. Hasil produksi tempe dialokasikan untuk kebutuhan dapur internal lapas sekaligus dipasarkan ke petugas dan warga sekitar.
KENDARI — Kepala LPP Kelas III Kendari Agustina menyatakan pelatihan ini menyasar warga binaan pemasyarakatan (WBP) yang akan kembali ke tengah masyarakat. Pemilihan tempe dan pupuk organik cair sebagai materi pelatihan didasari pertimbangan potensi pasar serta kemudahan akses modal usaha.
"Pelatihan ini diikuti sebanyak 43 warga binaan. Program ini bertujuan memberikan keterampilan konkret yang dapat menjadi sumber penghasilan bagi mereka ketika kembali ke tengah masyarakat kelak," kata Agustina.
Agustina menjelaskan tempe merupakan produk konsumsi harian masyarakat dengan modal terjangkau dan perputaran cepat. Karakter produk itu dinilai cocok untuk membangun usaha mandiri berskala kecil setelah warga binaan bebas.
"Kegiatan ini bukan sekadar membuat tempe dan pupuk organik, kami ingin membekali mereka dengan keterampilan wirausaha. Tempe merupakan produk konsumsi harian masyarakat dengan modal terjangkau dan perputaran cepat, sehingga sangat potensial untuk usaha mandiri," ujarnya.
Pelatihan ini menempatkan aspek kewirausahaan sebagai inti pembinaan, bukan hanya keterampilan teknis produksi. Warga binaan diarahkan memahami cara mengelola usaha kecil, mulai dari penyediaan bahan baku hingga penjualan.
Produksi tempe warga binaan LPP Kendari tidak hanya untuk konsumsi internal. Sebagian hasil dialokasikan memenuhi kebutuhan dapur lapas, sebagian lagi dijual kepada petugas dan masyarakat di sekitar lembaga pemasyarakatan.
Skema pemasaran itu memberi warga binaan pengalaman langsung berhadapan dengan pembeli. Mereka belajar menjaga kualitas produk dan memenuhi permintaan secara rutin selama masa pembinaan.
Agustina menegaskan pembinaan di lembaga pemasyarakatan tidak berhenti pada aspek kepribadian. LPP Kendari menyiapkan warga binaan agar menjadi pribadi produktif dan mandiri saat kembali ke masyarakat.
"Melalui program pembinaan kemandirian ini, LPP Kendari berupaya membuktikan bahwa pembinaan di dalam lembaga pemasyarakatan tidak hanya berfokus pada aspek kepribadian, melainkan juga menyiapkan warga binaan agar menjadi pribadi yang produktif dan mandiri saat kembali ke masyarakat," kata dia.
Salah seorang warga binaan berinisial R mengaku antusias mengikuti pelatihan karena mendapatkan ilmu baru yang dapat dimanfaatkan setelah bebas dari hukuman. Sebelumnya, ia belum pernah membuat tempe sendiri.
"Awalnya saya tidak bisa, sekarang sudah bisa membuat tempe sendiri. Nanti kalau sudah bebas, saya berencana membuka usaha jualan tempe di kampung," ucapnya.
Program pembinaan kemandirian LPP Kendari bekerja sama dengan Peserta Magang Kemnaker Batch I Tahun 2026. Pelatihan serupa diharapkan berlanjut untuk membekali lebih banyak warga binaan dengan keterampilan usaha yang bisa langsung dijalankan.