Survei HP: AI Ciptakan Lapangan Kerja Baru di Perusahaan Inggris

Penulis: Ragil  •  Kamis, 08 Oktober 2026 | 16:47:31 WIB
Survei HP melibatkan hampir 20.000 pekerja kantoran global untuk melihat dampak adopsi AI terhadap struktur kerja.

SULAWESI TENGGARA — Survei HP terhadap hampir 20.000 pekerja kantoran global menemukan tiga dari lima pemimpin bisnis di Inggris menyatakan adopsi AI justru menciptakan peran dan tim baru. Hanya 10 persen yang menilai AI terutama menggantikan atau mengurangi posisi, sementara 38 persen pekerja masih khawatir tergantikan. Temuan ini menantang narasi lama bahwa AI akan menghapus pekerjaan manusia.

HP merilis survei yang melibatkan hampir 20.000 pekerja berbasis meja dari berbagai negara, dengan fokus pada bagaimana kecerdasan buatan mengubah struktur kerja di Inggris. Hasilnya menunjukkan 46 persen responden Inggris menilai AI berdampak positif pada hidup mereka, dan 52 persen memakai alat AI dari perusahaan setiap hari atau setiap minggu, naik dari 38 persen pada tahun sebelumnya.

Angka adopsi itu berbanding lurus dengan pandangan soal lapangan kerja. Alih-alih memangkas posisi, AI disebut membuka peran baru di banyak organisasi.

AI Ciptakan Peran dan Tim Baru

Tiga dari lima pemimpin bisnis Inggris menyatakan adopsi AI telah menciptakan peran baru atau bahkan tim utuh di dalam organisasi mereka. Sebanyak 19 persen lainnya memperkirakan peran baru akan muncul dalam satu hingga dua tahun ke depan.

Hanya 10 persen pemimpin bisnis yang menilai AI utamanya menggantikan atau mengurangi posisi. Pola ini tidak khas Inggris. Secara global, 59 persen pemimpin bisnis dan 62 persen pengambil keputusan TI melaporkan hal serupa soal penciptaan lapangan kerja.

Penggunaan Agentic AI Meningkat

Sebanyak 45 persen pekerja kantoran Inggris kini memakai sistem agentic AI, yakni sistem otomatis yang mampu menjalankan tugas tanpa arahan terus-menerus. Sistem seperti ini dulu dianggap ancaman bagi pekerjaan.

Namun ada kesenjangan berdasarkan jabatan. Hanya 38 persen knowledge worker yang memakai agen AI, jauh di bawah pemimpin bisnis (56 persen) dan pengambil keputusan TI (71 persen). Semakin rendah posisi seseorang, semakin kecil kemungkinan ia memakai alat ini.

"For businesses, the priority now is to help people seize those opportunities by investing in the skills, tools and development they need to adapt and grow," ujar Managing Director HP UK&I, Ruth Patterson. Ia menambahkan bahwa pekerjaan berubah cepat, tetapi temuan tahun ini menunjukkan orang-orang mampu beradaptasi.

Kekhawatiran Pekerja Masih Ada

Di balik temuan positif, 38 persen knowledge worker Inggris tetap cemas AI akan menggantikan peran mereka. Angka hampir serupa, 37 persen, khawatir posisi mereka diambil orang lain yang lebih paham AI.

Kekhawatiran ini masuk akal. Pekerja yang tidak dibekali pelatihan AI berisiko tertinggal, sementara perusahaan yang gencar mengadopsi agen AI menuntut keterampilan baru dari karyawannya.

Bagi pekerja kantoran di Indonesia, temuan ini jadi sinyal bahwa kemampuan memakai alat AI semakin menentukan posisi seseorang di pasar kerja. Perusahaan yang menyediakan pelatihan dan akses alat AI cenderung lebih siap menghadapi pergeseran peran dibanding yang hanya mengandalkan cara kerja lama.

Reporter: Ragil
Sumber: techradar.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top