Pembalap Moto3 Veda Ega Pratama Cetak Sejarah Podium GP Brasil, Berawal dari Minibike Wonosari

Penulis: Yasir  •  Senin, 12 Oktober 2026 | 10:49:02 WIB
Pembalap Indonesia Veda Ega Pratama finis ketiga pada GP Brasil kelas Moto3.

Pembalap muda Indonesia Veda Ega Pratama mencatatkan sejarah sebagai pembalap Indonesia pertama yang naik podium Grand Prix setelah finis ketiga di GP Brasil. Remaja asal Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, itu kini memperkuat Honda Team Asia di kelas Moto3 musim 2026. Pencapaian tersebut menjadi tonggak penting bagi masa depan olahraga otomotif nasional.

GUNUNGKIDUL — Veda Ega Pratama lahir di Wonosari pada 23 November 2008 dan kini genap berusia 17 tahun. Ia memperkuat Honda Team Asia di kelas Moto3 pada musim 2026. Sempat mengusung nomor 54, Veda kini menunggangi motor bernomor balap 9 untuk mengarungi persaingan ketat di kelas tersebut.

Nama Veda kian diperhitungkan setelah mencatatkan sejarah sebagai pembalap Indonesia pertama yang berhasil naik podium di panggung Grand Prix. Hasil finis di posisi ketiga pada GP Brasil menjadi tonggak emas dalam karier balapnya. Raihan itu bukan keberuntungan semata, melainkan buah dedikasi panjang yang dipupuk sejak usia dini.

Dari Minibike Usia Lima Tahun ke Lintasan Grand Prix

Ketertarikan Veda terhadap kecepatan tumbuh ketika ia masih berusia lima tahun. Pada usia itu, ia mulai mengendarai minibike, kendaraan kecil yang menjadi pintu pertama untuk mengenal karakter motor, keseimbangan, dan keberanian di lintasan.

Setahun berselang, ketika berumur enam tahun, Veda mulai mengikuti kompetisi. Usia yang bagi sebagian anak masih diisi permainan dan kegiatan sekolah justru menjadi masa ketika ia mengenal disiplin latihan, persaingan, serta tuntutan untuk terus memperbaiki kemampuan.

Peran Ayah: Mantan Pembalap yang Jadi Sponsor Pertama

Lingkungan keluarga menjadi fondasi penting dalam perjalanan Veda. Ayahnya, Sudarmono, bukan sosok asing dengan dunia balap karena pernah berkompetisi di Kejuaraan Nasional Supersport 600.

Pengalaman itu membuat Sudarmono memahami bahwa menjadi pembalap bukan hanya perkara memacu kendaraan secepat mungkin. Dibutuhkan ketekunan, keberanian mengambil keputusan, kemampuan membaca situasi, dan pengendalian emosi. Sudarmono bahkan menjadi sponsor pertama yang mendukung perjalanan karier Veda.

Dukungan keluarga tidak hanya hadir dalam bentuk dorongan moral, tetapi juga pemahaman teknis dan pengorbanan untuk membuka jalan bagi sang anak. Sejak kecil, keinginan Veda menekuni balap sepeda motor mendapat ruang untuk berkembang.

Juara Nasional 2019, Lalu Asia Talent Cup

Hasil dari proses tersebut mulai terlihat ketika Veda berumur 10 tahun. Pada 2019, ia berhasil menjuarai Kejuaraan Nasional Balap Underbone. Gelar itu menjadi salah satu pencapaian awal yang memperlihatkan potensi besar pembalap asal Gunungkidul tersebut.

Merujuk data di laman MotoGP, Veda kemudian mengembangkan kemampuannya melalui Asia Talent Cup, salah satu jalur pembinaan pembalap muda di kawasan Asia. Ajang tersebut menjadi ruang penting untuk mengasah kemampuan menghadapi persaingan internasional.

Ia harus beradaptasi dengan karakter sirkuit yang berbeda, gaya membalap para pesaing, serta tuntutan konsistensi sepanjang musim. Setiap balapan menghadirkan pelajaran, setiap sesi latihan menjadi kesempatan memperbaiki catatan waktu, dan setiap kegagalan menjadi bahan evaluasi.

Casey Stoner Jadi Sosok Idola

Selain ayahnya, Veda memiliki sosok idola yang menjadi sumber inspirasi, yakni Casey Stoner. Legenda balap sepeda motor asal Australia itu merupakan anggota MotoGP Hall of Fame dan dua kali juara dunia kelas utama pada 2007 dan 2011.

Stoner dikenal sebagai pembalap dengan kemampuan alami, keberanian, serta karakter kompetitif yang kuat. Kehadiran Veda di lintasan internasional menjadi salah satu penanda lahirnya wajah baru Indonesia yang patut diperhitungkan di pentas balap dunia.

Reporter: Yasir
Sumber: sultra.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top