SULAWESI TENGGARA — Tiga anak muda asal Garut membawa persoalan sampah, peternakan ayam, dan eceng gondok ke Lancaster, Inggris. Mereka belajar soal perubahan iklim dan keberlanjutan usaha dari komunitas lokal yang mereka kelola sehari-hari.
Zidan Rafsanjani, Asyiyati Amila Robbani, dan Tanissa Puti bukan turis biasa di Lancaster, Inggris. Ketiganya datang membawa cerita tentang persoalan lingkungan yang dekat dengan kehidupan warga Garut dan Jatiluhur. Suhu udara di sana sekitar 14 derajat Celsius, cukup membuat mereka merapatkan jaket.
Perjalanan ini bukan sekadar kunjungan. Ada tiga bidang usaha, tiga isu lingkungan, dan satu tujuan yang sama: belajar bagaimana usaha kecil bisa tetap untung tanpa merusak lingkungan sekitar.
Zidan mengelola Bank Sampah Amal Haqiqi. Mila, sapaan akrab Asyiyati, mengurus Gulali Farm, peternakan ayam di Garut. Sementara Tanissa mengembangkan Bumi Kreasi Jatiluhur, usaha yang memanfaatkan eceng gondok.
Mereka datang ke Inggris untuk mendalami isu perubahan iklim, keberlanjutan, dan keterampilan masa depan. Bukan untuk wisata, melainkan membawa pengalaman komunitas lokal ke panggung internasional.
Mila punya alasan sederhana saat menamai peternakannya. Ia ingin usaha ayamnya tidak menimbulkan bau yang mengganggu warga sekitar.
"Peternakan saya namanya Gulali Farm, karena seperti permen yang wangi dan menyenangkan. Saya ingin peternakan menghasilkan uang dan tidak polusi bau," kata Mila.
Di Lancaster, Mila melihat peternakan dari sudut pandang yang lebih luas. Bukan cuma soal ayam dan pakan, tapi juga limbah, penggunaan energi, hingga efisiensi. Semua ini membuka wawasannya soal cara mengelola usaha yang ramah lingkungan.
Tanissa datang dengan cerita berbeda. Lewat Bumi Kreasi Jatiluhur, ia mengolah eceng gondok yang sering dianggap tanaman pengganggu perairan menjadi produk bernilai ekonomi. Tanaman yang biasanya dibuang itu justru jadi bahan baku usahanya.
Pengalaman di Lancaster memberi perspektif baru soal bagaimana limbah bisa diubah menjadi peluang. Bagi Tanissa, ini bukan sekadar soal bisnis, tapi juga cara menjaga lingkungan tetap bersih.
Ketiga anak muda ini menunjukkan bahwa persoalan lingkungan bisa dimulai dari hal kecil di sekitar rumah. Sampah, ayam, dan eceng gondok yang terlihat biasa ternyata bisa jadi bahan pembelajaran berharga di tingkat internasional.
Bagi ibu muda yang ingin mengajarkan anak peduli lingkungan, kisah mereka bisa jadi contoh nyata. Mulai dari memilah sampah di rumah, memanfaatkan barang bekas, hingga mendukung usaha lokal yang ramah lingkungan.
Perjalanan Zidan, Mila, dan Tanissa ke Lancaster membuktikan bahwa ide sederhana dari kampung bisa membawa perubahan besar. Yang dibutuhkan hanya kemauan untuk melihat masalah sebagai peluang.