SULAWESI TENGGARA — CEO Erajaya Digital Joy Wahjudi menilai harga iPhone Duo yang dibocorkan menyentuh Rp 45 juta di Indonesia tetap akan menemukan pembeli, meski pasarnya diprediksi tidak sebesar lini iPhone 18 Pro Series. Joy menyebut status iPhone Duo sebagai smartphone lipat pertama Apple jadi daya tarik tersendiri bagi konsumen premium. Menurutnya, segmen foldable punya karakter pasar yang berbeda dibanding HP konvensional.
Joy menyampaikan pandangan itu saat ditemui di sela acara iBox Pick & Win di Jakarta, Jumat (16/10/2026). Ia mengakui harga iPhone Duo di Amerika Serikat pun tergolong tinggi, bahkan dibandingkan lini iPhone Pro yang selama ini jadi produk premium Apple.
"Kalau saya bilang harganya mahal. Bisa kita cek kan di website-nya Apple. Yang di luar negeri mulai dari 2.000 dolar," ujar Joy.
Meski harga berpotensi membatasi jumlah pembeli, Joy menilai status iPhone Duo sebagai smartphone lipat pertama Apple tetap jadi magnet. Menurutnya, peminat produk ini pasti ada, tetapi sulit menyamai volume penjualan iPhone Pro Series.
"Karena yang pertama, peminatnya pasti ada. Apakah lebih banyak dari Pro Series? Rasa saya sih agak susah ya. Karena foldable itu ada segmen sendiri," ungkapnya.
Joy menjelaskan, pasar smartphone lipat punya karakter berbeda dibandingkan HP konvensional. Tidak semua konsumen membutuhkan desain layar lipat, terlebih jika harus membayar jauh lebih mahal.
Ia berkaca pada pengalaman produsen smartphone lain yang lebih dulu menghadirkan perangkat foldable. Menurut Joy, penjualan perangkat lipat selalu lebih kecil dibanding model konvensional.
"Kalau kita belajar dari yang sudah meluncurkan foldable, sama yang biasa kayak begini, itu kan tetap lebih besar yang biasa daripada foldable," jelasnya.
Karena itu, Joy memperkirakan iPhone Duo tidak akan langsung menjadi produk dengan penjualan sebesar iPhone Pro Series.
"Jadi ada market-nya lah. Tapi bukan mass market kalau menurut saya," tegasnya.
Selain karakter pasar yang lebih khusus, Joy menilai selisih harga dengan iPhone 18 Pro Series akan jadi pertimbangan penting bagi calon pembeli. Meski seseorang tertarik dengan konsep smartphone lipat Apple, harga tinggi bisa membuat konsumen berpikir ulang.
"Jadi otomatis walaupun saya minat, tapi mungkin saya lebih baik... mungkin ya orang harus lihat dong, dengan nilainya semahal itu kan," kata Joy.
Pernyataan itu menunjukkan daya tarik teknologi baru saja belum tentu cukup mendorong pembelian. Konsumen juga perlu menilai apakah pengalaman menggunakan layar lipat sepadan dengan harga yang harus dibayar.
Joy tidak meragukan iPhone Duo tetap akan menemukan pembelinya di Indonesia. Hanya saja, pasar produk ini kemungkinan lebih terbatas dibandingkan iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max yang menawarkan desain smartphone konvensional.
Kehadiran iPhone Duo diperkirakan lebih menyasar konsumen premium yang menginginkan pengalaman berbeda, bukan pasar iPhone secara keseluruhan.
"Karena ini merupakan iPhone lipat pertama Apple, saya yakin peminatnya pasti ada. Namun, kalau dibandingkan dengan iPhone Pro Series, rasanya cukup sulit untuk menyamai penjualannya. Sebab, smartphone lipat memang memiliki segmen pasar tersendiri," pungkas Joy.