KENDARI — Pemprov Sulawesi Tenggara membawa peta potensi kelautan daerah ke forum internasional Marine Biomedicine and Blue Economic Development di Fujian, Tiongkok. Ridwan Badallah hadir mewakili Gubernur Andi Sumangerukka di hadapan delegasi 80 negara. Agenda ini menjadi bagian dari rangkaian The World Maritime Equipment Conference 2026.
Dalam forum tersebut, Ridwan memaparkan pemetaan empat wilayah potensi bahari Sultra. Cakupannya mulai dari kawasan konservasi Wakatobi hingga potensi perikanan di WPPNRI 713 dan 714. Dua wilayah pengelolaan perikanan itu dikenal dengan stok ikan pelagis yang melimpah.
Selain perikanan tangkap, Sultra menawarkan produksi rumput laut sebesar 212.992 ton. Angka itu disebut sebagai aset nyata yang siap dikolaborasikan di tingkat global. Potensi ini tersebar di sejumlah kabupaten pesisir yang selama ini menjadi basis budidaya rumput laut.
Ridwan menegaskan bahwa pemanfaatan sumber daya laut tidak boleh berhenti pada pengejaran nilai ekonomi. Menurutnya, keberlanjutan lingkungan, penguatan inovasi, dan kesejahteraan masyarakat pesisir harus berjalan seiring.
"Potensi sumber daya kelautan dan perikanan menjadi modal strategis bagi Sulawesi Tenggara dalam mengembangkan ekonomi biru yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan nilai ekonomi, tetapi juga pada keberlanjutan lingkungan, penguatan inovasi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir," kata Ridwan dalam forum tersebut, Jumat (16/10/2026).
Forum di Fujian menyoroti marine biomedicine, bidang yang memanfaatkan terumbu karang, spons laut, dan biota hayati lain untuk bahan pengobatan. Pemanfaatan bidang ini menuntut pendekatan riset tinggi dan teknologi mutakhir. Ketersediaan biota laut Sultra dinilai menjadi modal awal untuk masuk ke ranah tersebut.
Keterbukaan Sultra bermitra dengan negara-negara maju menjadi salah satu poin yang ditekankan dalam forum. Selain Tiongkok, Ridwan menyebut Singapura dan Polandia sebagai pihak yang potensial diajak bekerja sama. Tujuannya alih teknologi dan masuknya investasi berkelanjutan di sektor kelautan.
Sejumlah pekerjaan rumah menanti setelah forum berakhir. Komitmen kerja sama, riset bioteknologi kelautan, dan pembenahan infrastruktur pelabuhan perikanan perlu segera diterjemahkan menjadi kebijakan konkret.
Sultra memiliki 17 kabupaten/kota dengan garis pantai panjang dan masyarakat pesisir yang menggantungkan hidup pada laut. Diplomasi maritim di Fujian diharapkan berujung pada peningkatan kesejahteraan kelompok tersebut. Indikatornya bukan hanya nilai investasi, tetapi juga harga jual hasil tangkapan dan produksi rumput laut di tingkat nelayan.
Pemprov Sultra belum merinci bentuk kerja sama yang akan ditandatangani pasca-forum. Namun arah yang disebut adalah penguatan riset bioteknologi kelautan dan perbaikan infrastruktur pelabuhan perikanan di daerah.