KENDARI — Predikat itu diraih Nur Inayah dari total 736 mahasiswa yang mengikuti prosesi Wisuda Periode X sesi kedua UHO pada Sabtu (17/10/2026). Ia lulus sebagai sarjana Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
Jalan menuju panggung wisuda tidak dibuka dengan kejutan. Sejak hari pertama kuliah, Nur Inayah menuliskan motivasi dan impiannya di sebuah catatan kecil. Tulisan itu dibaca berulang setiap kali semangat mulai surut.
Kebiasaan menulis tujuan itu menjadi semacam kontrak pribadi. Nur Inayah mengaku tidak pernah menyangka catatan sederhana tersebut berujung pada predikat wisudawan terbaik.
"Saya percaya bahwa langkah kecil yang dilakukan secara konsisten akan membawa kita pada hasil yang besar. Hari ini, mimpi yang hanya sekadar berisi tulisan sederhana dan tidak pernah saya sangka menjadi nyata," ungkapnya dalam wawancara pada Minggu (18/10/2026).
Konsistensi dan doa disebutnya sebagai dua kunci utama. Keduanya berjalan bersama selama tiga tahun satu bulan masa perkuliahan.
Perjalanan akademik Nur Inayah tidak selalu mulus. Tantangan terbesarnya bukan soal materi kuliah, melainkan menjaga komitmen ketika apa yang dikerjakan tidak berjalan sesuai rencana.
Dari pengalaman itu ia belajar bahwa setiap proses menuntut waktu, tenaga, dan kesabaran. Tidak semua hal, katanya, harus berjalan persis seperti yang dibayangkan.
"Tantangan terbesar saya adalah menjaga komitmen untuk menyelesaikan pendidikan dengan baik. Namun, dari situ saya belajar bahwa tidak semua hal harus berjalan sesuai rencana," jelasnya.
Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, Nur Inayah menempatkan keluarga sebagai sumber dorongan terbesar. Kedua orang tuanya, Muhammad Irsyad Cahyadi, S.T., M.T., dan Sitti Baharia, S.Sos., disebutnya paling berpengaruh dalam pencapaian ini.
Ia ingin memberikan yang terbaik bagi keluarga sekaligus menjadi teladan bagi kedua adiknya. Para dosen yang membimbing selama perkuliahan juga mendapat ucapan terima kasih, begitu pula teman-teman yang menemani proses belajar.
Baginya, predikat wisudawan terbaik bukan sekadar penghargaan akademik. Gelar itu adalah kebanggaan yang dipersembahkan untuk orang tua.
"Bagi saya, predikat ini bukan hanya milik saya, tetapi juga milik mereka yang selalu mendoakan dan mendukung saya," tuturnya.
Nur Inayah berpesan agar mahasiswa lain tidak takut menjalani proses panjang. Menurutnya, terlalu sibuk membandingkan diri dengan orang lain justru mengaburkan tujuan sendiri.
Setiap orang punya lintasan dan waktunya masing-masing. Konsistensi, kata dia, tetap menjadi faktor penentu untuk sampai ke tujuan.
"Jangan takut berproses dan jangan terlalu sibuk membandingkan diri dengan orang lain. Tetap konsisten, nikmati setiap proses, dan ingat alasan mengapa kalian memulai," pesannya.
Setelah menyelesaikan sarjana di UHO, Nur Inayah berencana melanjutkan studi magister di Universitas Negeri Makassar (UNM). Saat ini ia menyiapkan diri dan mencari peluang beasiswa.
Bidang pendidikan menjadi fokus yang ingin ia kembangkan. Nur Inayah berharap ilmu yang diperoleh bisa bermanfaat bagi masyarakat dan membawa nama baik almamater.