Arief Poyuono Minta Bursa Tak Mendewakan MSCI, Soroti Bobot AS 70 Persen

Penulis: Fajar  •  Minggu, 25 Oktober 2026 | 14:18:31 WIB
Komisaris Pelindo Arief Poyuono menyoroti konsentrasi saham AS dalam indeks MSCI World.

SULAWESI TENGGARA — Komisaris Pelindo Arief Poyuono meminta pelaku pasar modal Indonesia berhenti menjadikan MSCI sebagai satu-satunya acuan investasi. Ia menilai indeks global itu terlalu terkonsentrasi pada saham Amerika Serikat dan sektor teknologi, sehingga label "global" tak otomatis berarti terdiversifikasi. Kritik tersebut muncul saat investor domestik kian ramai menempatkan dana pada produk ETF yang melacak indeks dunia.

Arief menilai ketergantungan berlebihan pada satu indeks berpotensi mempersempit cara pandang terhadap peluang investasi di berbagai kawasan dan kelompok saham. Menurut dia, MSCI bukan satu-satunya instrumen untuk menilai prospek pasar saham maupun menentukan arah strategi investasi.

"MSCI bukan satu-satunya penilai bobot saham di bursa saham," kata Arief dalam pandangannya mengenai posisi MSCI dan pengaruhnya terhadap pasar modal Indonesia.

Ia menegaskan, investor perlu memahami karakteristik indeks yang digunakan sebelum menjadikannya dasar pengambilan keputusan. Selama beberapa tahun terakhir, Arief mengaku berulang kali mengingatkan agar investor tidak menaruh semua dana dalam satu keranjang, termasuk hanya berinvestasi pada ETF yang melacak MSCI World.

Konsentrasi Saham AS Jadi Sorotan

Komposisi MSCI World dinilai terlalu terkonsentrasi pada pasar Amerika Serikat dan sektor teknologi. Arief merujuk pada dominasi saham AS dalam indeks tersebut serta besarnya porsi perusahaan teknologi di dalamnya.

"Dengan bobot pasar seperti AS yang mencapai lebih dari 70 persen, serta sektor teknologi yang mencakup lebih dari 30 persen, indeks ini menjadi kurang seimbang," ujarnya.

Konsentrasi itu membuat kinerja indeks sangat dipengaruhi pergerakan sejumlah perusahaan besar. Arief menyoroti porsi saham zona euro yang disebutnya hanya sekitar 10 persen dari bobot MSCI World.

"Investor yang membeli ETF MSCI World saat ini dengan keyakinan bahwa mereka melakukan investasi yang terdiversifikasi adalah sangat keliru," katanya.

Kinerja Masa Lalu Bukan Jaminan

Arief membandingkan kinerja MSCI World dengan indeks DAX Jerman. Pada periode yang dibahasnya, DAX mencatat kenaikan 15,5 persen, sementara MSCI World terkoreksi 3,7 persen.

Dalam perhitungan mata uang euro, MSCI World mencatat kenaikan rata-rata 14,3 persen per tahun sejak awal Maret 2020. DAX membukukan kenaikan rata-rata 14,8 persen per tahun pada periode yang sama.

"Menyebut MSCI World saat ini bukan berarti diversifikasi, melainkan merujuk pada kinerja unggul yang terjadi antara tahun 2009 hingga 2024," ujarnya.

Menurut Arief, strategi yang berhasil pada satu periode tidak otomatis memberi hasil sama pada periode berikutnya. Ia menilai popularitas indeks tak boleh menjadi alasan mengabaikan risiko konsentrasi.

Dorong Portofolio Multi-ETF

Arief mendorong pendekatan yang menggabungkan sejumlah ETF dengan cakupan pasar dan karakteristik berbeda. Portofolio saham dapat mempertimbangkan pasar negara berkembang, saham berkapitalisasi kecil, serta pasar maju di Eropa, Jepang, dan Asia.

"Saya tidak pernah paham mengapa banyak investor bersikeras mencari solusi investasi satu pintu. Mengapa tidak membangun portofolio ETF yang terdiversifikasi dengan empat, lima, atau bahkan enam ETF?" ujar Arief.

Ia juga menyinggung indeks lain seperti MSCI ACWI dan FTSE World yang sama-sama memakai pembobotan kapitalisasi pasar. Menurut dia, mengganti satu indeks dengan indeks lain belum tentu menyelesaikan persoalan konsentrasi bila pendekatan pembobotannya serupa.

Arief meminta pelaku pasar tidak bereaksi berlebihan terhadap penilaian lembaga penyusun indeks global. Penilaian MSCI perlu dipahami sebagai salah satu referensi pasar, bukan ukuran tunggal yang menentukan seluruh prospek investasi di Indonesia.

"Jangan takut dan jangan mau ditipu MSCI," kata Arief.

Pandangan tersebut muncul ketika produk ETF makin mudah diakses investor ritel Indonesia lewat platform digital dengan biaya rendah. Kemudahan itu, menurut Arief, justru semestinya membuka jalan bagi investor untuk memperluas pilihan ke saham lapis kedua dan pasar berkembang, bukan mengunci dana pada satu indeks global yang bobotnya didominasi Wall Street.

Reporter: Fajar
Sumber: voi.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top