Pencarian

Kekalahan Beruntun dan Aturan UEFA Hantui Michele Kang, Barcelona Bukan Klub Tanpa Cela

Rabu, 27 Mei 2026 • 05:30:01 WIB
Kekalahan Beruntun dan Aturan UEFA Hantui Michele Kang, Barcelona Bukan Klub Tanpa Cela
Michele Kang mengalami dua kekalahan final beruntun di kompetisi sepak bola wanita internasional.

SULAWESI TENGGARA — Ambisi Michele Kang untuk mendominasi sepak bola wanita Eropa melalui grup Kynisca Sports International mendapat pukulan telak. Pada Sabtu (24/5) malam WIB, Lyonnes yang dimilikinya dihancurkan Barcelona 4-0 di final Liga Champions Wanita di Oslo. Tak berselang lama, Washington Spirit, timnya di Amerika Serikat, juga menyerah 5-3 dari Club América di final Concacaf W Champions Cup.

Komentar Pedas Kiper Barcelona Usai Final

Kiper Barcelona, Cata Coll, tak membuang kesempatan untuk melontarkan sindiran tajam soal kekuatan finansial Kang. “Uang bukan segalanya,” ujarnya kepada Esport3 di Oslo, Sabtu malam. “Kami beruntung memiliki La Masia dan para pemain akademi yang naik ke tim utama. Itu menjelaskan segalanya.”

Pernyataan Coll ini viral dan langsung dianggap sebagai kritik terhadap model investasi Kang. Barcelona sukses memproduksi bakat dari akademi, sementara Kang merekrut pemain bintang dengan dana segar, termasuk membajak pelatih Jonatan Giráldez dari Barcelona untuk kemudian dipindahkan ke Lyonnes.

Kang Bukan Satu-satunya yang Bermain dengan Uang

Meskipun akademi La Masia adalah prestasi yang patut diacungi jempol, Barcelona bukanlah klub yang steril dari masalah finansial. Klub asal Catalan itu justru disebut memanfaatkan celah aturan keuangan ketat La Liga. Kesulitan dana yang dialami tim pria berdampak langsung ke seluruh sektor klub, termasuk tim wanita dan akademi.

Akibat tekanan gaji, Barcelona terpaksa melepas beberapa pemain kunci yang seharusnya bisa dipertahankan. Saat ini, empat pilar utama mereka—Alexia Putellas, Mapi León, Salma Paralluelo, dan Caroline Graham Hansen—sedang mendekati akhir kontrak. Masa depan mereka masih abu-abu, tergantung apakah Barcelona bisa mempertahankannya atau justru kehilangan secara gratis karena tekanan finansial.

Praktik Pasar yang Distorsi, Tapi Semua Klub Akan Melakukan Hal Sama

Kang memang telah memicu kekesalan klub-klub Eropa lainnya. Tawaran gaji dan biaya transfer yang ia berikan untuk memboyong pemain bintang ke proyek-proyek barunya dianggap mendistorsi pasar dan tidak berkelanjutan. Namun, jika diberi kesempatan, hampir semua klub besar Eropa akan melakukan hal yang persis sama.

Klub-klub pria raksasa yang memiliki dana besar seringkali memilih untuk tidak berinvestasi besar di tim wanita dengan alasan keberlanjutan. Alasan ini terasa seperti pembenaran atas kurangnya investasi, mengingat mayoritas klub pria justru beroperasi dengan kerugian besar setiap musimnya. Ironisnya, tidak ada satu pun dari klub-klub besar itu yang menawarkan model alternatif yang lebih baik untuk pertumbuhan sepak bola wanita.

Bagikan
Sumber: theguardian.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks