SULAWESI TENGGARA — Kolaborasi ini tidak berhenti pada penyediaan perangkat lunak semata. Rangkaian program dirancang berjenjang, mulai dari peningkatan kompetensi guru hingga pendampingan belajar siswa di kelas. Guru-guru di Bali akan terlebih dahulu dibekali metode GASING melalui Gasing Academy, sebelum nantinya mendampingi siswa menggunakan platform Sacred Octagon yang menyajikan latihan soal matematika dalam bentuk permainan bertahap.
Selain itu, platform SkulPintar disiapkan untuk mendukung proses pembelajaran dan asesmen. Seluruh hasil kegiatan dirancang agar dapat dipantau secara data-driven, sehingga pemerintah daerah dan pihak sekolah bisa mengevaluasi efektivitas program secara berkala. Langkah ini menjadi penting untuk memastikan program berjalan relevan dengan kebutuhan di lapangan.
Membangun Kepercayaan Diri Anak Lewat Pendekatan Bermain
Direktur Utama Telkomsel, Nugroho, menegaskan bahwa numerasi bukan sekadar kemampuan berhitung, melainkan fondasi untuk berpikir kritis dan mengambil keputusan. "Melalui kolaborasi ini, kami ingin memberi lebih banyak anak kesempatan untuk belajar, mencoba, mencoba lagi, hingga percaya bahwa mereka bisa dan berhasil," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima di Denpasar.
Pada kesempatan tersebut, guru dan siswa yang hadir langsung mencoba pembelajaran menggunakan Sacred Octagon. Sesi uji coba ini menjadi langkah awal untuk mengukur manfaat program secara bertahap, sekaligus memahami kebutuhan nyata di sekolah. Pendekatan ini diharapkan mampu mengubah cara pandang anak terhadap matematika yang kerap dianggap menakutkan menjadi sesuatu yang menyenangkan.
Sejalan dengan Target Nasional Penguatan SDM
Langkah Telkomsel bersama Pemprov Bali ini sejalan dengan Asta Cita keempat pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, yang menekankan penguatan pembangunan sumber daya manusia (SDM), sains, dan teknologi. Digitalisasi pendidikan menjadi salah satu instrumen kunci untuk menjangkau kualitas belajar yang merata, khususnya di daerah-daerah yang memiliki tantangan geografis.
Bagi Telkomsel, inisiatif ini bukan sekadar program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), melainkan bagian dari pengembangan ekosistem bisnis di sektor pendidikan. Sebagai operator telekomunikasi terbesar di Indonesia, perusahaan memiliki kepentingan untuk memastikan generasi muda melek teknologi sejak dini. Ke depan, skema kolaborasi serupa berpotensi direplikasi di provinsi lain dengan penyesuaian kebutuhan lokal masing-masing.
Dengan adanya ekosistem ini, para guru di Bali memiliki perangkat tambahan untuk mengajar secara lebih interaktif. Sementara siswa mendapatkan akses ke metode belajar yang lebih personal dan adaptif, yang pada akhirnya diharapkan mampu meningkatkan capaian numerasi sekaligus membangun kepercayaan diri anak dalam memecahkan persoalan sehari-hari.