Pencarian

Rumah Tradisional Baboroh Suku Bajo di Sulawesi Tenggara: Tiang dari Belahan Pohon, Dinding Bambu Tanpa Paku

Rabu, 09 September 2026 • 06:32:01 WIB
Rumah Tradisional Baboroh Suku Bajo di Sulawesi Tenggara: Tiang dari Belahan Pohon, Dinding Bambu Tanpa Paku
Rumah tradisional baboroh Suku Bajo di Sulawesi Tenggara menggunakan tiang dari belahan pohon dan dinding anyaman bambu tanpa paku.

KENDARI — Rumah tradisional Suku Bajo, atau yang akrab disebut baboroh, bukan sekadar tempat tinggal. Di balik kesederhanaannya, konstruksi rumah ini merepresentasikan hubungan erat masyarakat pengembara laut dengan lingkungan sekitarnya. Istilah baboroh sendiri merujuk pada bangunan sederhana yang seluruh material utamanya bersumber dari hutan dan pesisir.

Berbeda dengan rumah panggung pada umumnya, baboroh memiliki ciri khas pada bagian tiangnya. Tiang utama tidak menggunakan kayu utuh, melainkan belahan pohon yang dibiarkan apa adanya. Sementara itu, dinding rumah disusun dari anyaman bambu yang rapat, memberikan sirkulasi udara alami yang baik bagi penghuninya.

Mengapa Suku Bajo Memilih Material Belahan Pohon dan Bambu?

Pemilihan material bukan tanpa alasan. Belahan pohon dinilai lebih mudah didapat dan diolah dibandingkan kayu bulat utuh. Sifatnya yang ringan memudahkan proses gotong royong mendirikan rumah, sebuah tradisi yang masih dijaga hingga kini. Bambu pada dinding berfungsi sebagai pendingin alami, sangat cocok dengan iklim panas di wilayah pesisir.

Konstruksi baboroh juga dikenal ramah lingkungan. Penggunaan material organik membuat rumah ini mudah diperbaiki dan tidak meninggalkan limbah berbahaya ketika akhirnya tidak digunakan. Suku Bajo meyakini bahwa mengambil bahan dari alam harus diiringi dengan tanggung jawab menjaga kelestariannya.

Baboroh dan Adaptasi dengan Kehidupan Pesisir

Sebagai komunitas yang identik dengan kehidupan di atas air, baboroh menjadi bukti adaptasi Suku Bajo terhadap lingkungan. Bentuk panggung rumah berfungsi untuk menghindari pasang surut air laut dan serangan binatang buas. Meski sebagian besar Suku Bajo kini mulai beralih ke rumah permanen, beberapa perkampungan di Sulawesi Tenggara masih mempertahankan keberadaan baboroh.

Keberadaan rumah ini tidak hanya bernilai arsitektural, tetapi juga menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin mempelajari kehidupan Suku Bajo. Upaya pelestarian terus dilakukan, baik oleh masyarakat adat maupun pemerintah daerah, agar generasi penerus tetap mengenal akar budayanya.

Bagi masyarakat luas, baboroh mengajarkan bahwa sebuah hunian tidak harus mewah untuk dapat memberikan kenyamanan. Yang terpenting adalah bagaimana bangunan tersebut mampu hidup selaras dengan alam dan kebutuhan penghuninya.

Follow kabarbaubau.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: 20.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks