SULAWESI TENGGARA — Gunung Papandayan di Kabupaten Garut, Jawa Barat, mengeluarkan fenomena api biru atau blue fire yang memaksa jalur pendakian dan area perkemahan ditutup sementara. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat peningkatan aliran gas sulfur dioksida (SO2) serta kenaikan aktivitas gempa vulkanik dangkal di kawasan tersebut. Fenomena ini bukan pertama kali terjadi, tetapi intensitasnya kini meningkat seiring naiknya suhu fumarol.
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Sonni Setiawan, menjelaskan bahwa blue fire di Papandayan berasal dari pembakaran gas belerang yang keluar melalui rekahan vulkanik. Gas tersebut muncul dari celah fumarol dan solfatara di sekitar kawah aktif.
Bagaimana Blue Fire Terbentuk
Magma di bawah Gunung Papandayan melepaskan gas hidrogen sulfida (H2S) dan sulfur dioksida (SO2) bersuhu sekitar 200-600 derajat Celsius. Gas-gas ini mengalir ke permukaan melalui rekahan fumarol atau solfatara.
H2S yang keluar kemudian bereaksi dengan oksigen di udara dan mengalami pembakaran. Reaksi tersebut menghasilkan sulfur dioksida, uap air, panas, serta nyala api berwarna biru elektrik dengan suhu yang bisa mencapai 600 derajat Celsius.
"Pembakaran gas belerang inilah yang menghasilkan nyala api berwarna biru elektrik, dengan suhu api dapat mencapai sekitar 600 derajat Celsius," ujar Sonni, dikutip dari situs resmi IPB University pada Rabu (30/9).
Lokasi dan Waktu Pengamatan
Blue fire di Papandayan terlihat di area fumarol aktif seperti Blok Mas dan kawasan Golden Sunrise. Fenomena ini paling jelas terlihat pada malam hari, terutama sekitar pukul 02.00-05.00 WIB, saat kondisi benar-benar gelap.
Kemunculan api biru di Papandayan bukan hal baru. Aktivitas serupa mulai terjadi pasca erupsi gunung tersebut pada November 2002, yang menghasilkan fumarol dan rekahan baru di kawasan Kawah Mas, Kawah Baru, dan Nangklak.
"Setelah erupsi 2002, banyak rekahan baru terbuka. Gas yang sebelumnya menyebar kemudian menjadi lebih terpusat pada celah-celah sempit dengan tekanan yang lebih tinggi. Ketika bercampur dengan udara, gas tersebut dapat terbakar dan menghasilkan blue fire," kata Sonni.
Peningkatan Aktivitas Vulkanik
PVMBG mencatat peningkatan aktivitas vulkanik di Gunung Papandayan, ditandai dengan naiknya aliran SO2 dan aktivitas gempa vulkanik dangkal. Suhu fumarol juga meningkat dari sebelumnya sekitar 150 derajat Celsius menjadi 300-400 derajat Celsius.
Pada suhu tersebut, gas H2S dapat terbakar secara spontan tanpa perlu disulut. Kondisi ini membuat kemunculan api biru lebih sering terlihat dibandingkan periode sebelumnya.
Imbauan Keselamatan bagi Pengunjung
Sonni mengimbau masyarakat untuk tidak mendekati lokasi blue fire. Gas vulkanik seperti SO2 berbahaya bagi pernapasan, sementara tanah di sekitar fumarol bisa rapuh akibat tingginya suhu.
"Jika melakukan pengamatan pada malam hari, keselamatan harus menjadi prioritas. Masker kain biasa tidak cukup untuk menghadapi paparan gas vulkanik. Jangan mendekati lubang fumarol karena selain gasnya beracun, struktur tanah di sekitarnya juga dapat rapuh," pungkasnya.
Penutupan sementara jalur pendakian dan perkemahan dilakukan sebagai langkah antisipasi. Pengunjung yang tetap ingin menyaksikan fenomena ini dari jarak aman disarankan memantau informasi resmi dari PVMBG dan pengelola kawasan.