SULAWESI TENGGARA — Anemia defisiensi besi masih membayangi anak Indonesia, bahkan 14 persen anak usia 6-12 tahun di Jakarta dan Bekasi tercatat mengalaminya. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menekankan protein hewani sejak masa MPASI sebagai kunci pencegahan yang bisa ibu lakukan di rumah.
Kekurangan zat besi jadi penyebab terbesar anemia pada anak, menyumbang sekitar 30-50 persen dari seluruh kasus. Angka ini bukan sekadar statistik, karena hemoglobin yang rendah membuat anak mudah lelah, lemah, dan kurang fokus belajar.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Hematologi Onkologi IDAI, Murti Andriastuti, menjelaskan kebutuhan zat besi paling tinggi terjadi pada bayi dan remaja. Kedua kelompok usia ini sedang mengalami percepatan pertumbuhan, sehingga asupan besi harus benar-benar diperhatikan.
Mengapa Bayi dan Remaja Paling Rentan
Murti menyebut anemia sudah bisa ditemukan sejak bayi berusia 4 bulan. Prevalensinya berada di kisaran 20-30 persen, lalu meningkat hingga sekitar 40 persen pada usia 9-12 bulan.
Pada usia 9 bulan, anemia defisiensi besi berada di kisaran 20-25 persen. Sementara defisiensi besi tanpa anemia mencapai sekitar 30 persen, artinya banyak anak sudah kekurangan zat besi sebelum kondisi anemia terdeteksi.
"Jadi penyebab anemia itu yang terbanyak adalah defisiensi besi. Sehingga kalau kita mau menurunkan angka kejadian anemia, yang utama prioritasnya adalah mengatasi defisiensi besi," kata Murti dalam konferensi pers daring, Selasa (6/10/2026).
Protein Hewani Sejak MPASI Jadi Kunci
Sumber zat besi terbaik berasal dari protein hewani seperti telur, hati, dan daging merah. Murti menegaskan pemberian makanan ini bisa dimulai begitu bayi memasuki masa MPASI.
"Ketika orang tua sejak awal sudah bisa memberikan protein hewani seperti telur, hati, daging merah kepada bayi-bayi pada saat mereka mulai untuk mendapatkan MPASI, akan memberikan zat besi yang sangat tinggi," ujarnya.
Jadi tidak perlu menunggu anak besar untuk membiasakan konsumsi protein hewani. Sejak suapan pertama MPASI, ibu sudah bisa menyiapkan telur rebus yang dihaluskan atau hati ayam yang dimasak lembut.
Anemia Juga Mengintai Anak Sekolah dan Remaja
Temuan penelitian IDAI di wilayah Jakarta dan Bekasi menunjukkan anemia masih ditemukan pada kelompok usia sekolah hingga remaja. Pada anak usia 6-12 tahun, sekitar 14 persen mengalami anemia.
Angka tersebut tercatat 13,1 persen pada kelompok usia 6-18 tahun dan sekitar 10 persen pada kelompok usia 10-21 tahun. Sementara prevalensi defisiensi besi justru lebih tinggi, mencapai 14,8 persen pada anak usia 6-12 tahun.
Defisiensi besi meningkat menjadi 18,8 persen pada kelompok usia 6-18 tahun dan 20 persen pada kelompok usia 10-21 tahun. Data ini menunjukkan masalah kekurangan zat besi tidak berhenti setelah bayi lepas dari MPASI.
Dampak Anemia pada Keseharian Anak
Hemoglobin dalam sel darah merah berfungsi membawa oksigen dan nutrisi ke seluruh tubuh. Ketika kadarnya turun di bawah batas normal untuk kelompok usia tertentu, kondisi klinis anak bisa terpengaruh.
"Jadi kalau misalnya Hb-nya turun tentu akan berdampak juga pada yang mengidap anemia. Jadi akan terlihat kalau misalnya kita dulu ada lelah, lemah, letih," pungkas Murti.
Anak yang sering mengantuk di kelas, tidak bersemangat bermain, atau terlihat pucat bisa jadi sedang mengalami anemia. Membiasakan menu kaya zat besi di rumah adalah langkah kecil yang berdampak besar untuk tumbuh kembangnya.