Pencarian

Pemkot Kendari Tertibkan 800 Pedagang BBM Eceran dan Pertamini, Antrean SPBU Jadi Pemicu

Jumat, 09 Oktober 2026 • 09:59:02 WIB
Pemkot Kendari Tertibkan 800 Pedagang BBM Eceran dan Pertamini, Antrean SPBU Jadi Pemicu
Wakil Wali Kota Kendari Sudirman memimpin rapat penertiban BBM eceran dan Pertamini di seluruh wilayah kota.

Pemerintah Kota Kendari menertibkan lebih dari 800 titik pedagang bahan bakar minyak eceran dan pemilik pom mini atau Pertamini yang tersebar di seluruh wilayah kota. Wakil Wali Kota Kendari Sudirman menyatakan penertiban diperluas ke semua kawasan, bukan hanya sekitar stasiun pengisian bahan bakar umum, karena pembelian BBM subsidi oleh oknum pelangsir masih marak. Sosialisasi kepada pedagang dan kelurahan sudah dimulai sebelum penindakan dilakukan.

KENDARI — Wakil Wali Kota Kendari Sudirman meminta Satpol PP bersama seluruh kelurahan menyosialisasikan kembali aturan penertiban BBM eceran sebelum penindakan dilakukan. Area penertiban mencakup seluruh Kota Kendari, termasuk kios dan boks eceran yang menjual BBM bersubsidi tanpa izin.

Pemkot mencatat lebih dari 800 titik pedagang BBM eceran dan Pertamini berdasarkan pendataan dari seluruh lurah. Jumlah itu dinilai menjadi salah satu pemicu utama antrean panjang kendaraan di SPBU resmi.

Pelangsir Pasok Jerigen 35 Liter ke Pedagang Eceran

Sudirman mengungkapkan bahwa BBM eceran tidak lagi dibeli langsung oleh pengendara yang mengantre di SPBU. Pasokan datang dari pelangsir yang membawa jerigen berkapasitas 35 liter.

"Eceran ini bukan lagi dibeli oleh pengendara yang mengantre langsung, melainkan disuplai oleh pelangsir yang membawa jerigen berkapasitas 35 liter. Jika satu pedagang eceran menampung dua jerigen atau 70 liter, maka 100 pedagang saja sudah menyerap sekitar 7.000 liter BBM," katanya.

Jika diakumulasi, volume BBM yang didistribusikan pelangsir ke 800 pedagang eceran disebut setara dengan kuota penyaluran harian dari empat SPBU di Kota Kendari.

Selisih Harga Pertalite dan BBM Nonsubsidi Capai Rp 6.000 per Liter

Praktik pelangsiran tumbuh karena selisih harga antara BBM bersubsidi seperti Pertalite dan BBM nonsubsidi mencapai lebih dari Rp 6.000 per liter. Selisih itu dimanfaatkan oknum sebagai peluang bisnis baru.

Aktivitas pelangsir melibatkan berbagai jenis kendaraan, mulai dari sepeda motor, angkutan kota, hingga mobil pikap. Akibatnya, pekerja harian, pengemudi ojek dalam jaringan, dan pedagang kesulitan mendapatkan BBM di SPBU secara langsung.

Antrean SPBU Sempat Landai Sebelum Eceran Menjamur Lagi

Antrean BBM sempat landai dan kondusif beberapa hari setelah Pemkot menertibkan pedagang eceran di area SPBU. Kondisi itu tidak bertahan lama karena penjualan eceran kembali menjamur di luar kawasan SPBU.

Pemkot Kendari menyatakan penertiban menyasar seluruh aktivitas penjualan BBM eceran tanpa izin. Langkah itu diambil untuk mengembalikan kelancaran distribusi BBM di SPBU resmi.

"Kami minta kerja sama dari seluruh pihak agar aturan ini dipatuhi demi ketertiban umum dan kenyamanan masyarakat luas dalam mendapatkan akses BBM," kata Sudirman.

Penertiban dilakukan setelah sosialisasi kepada pedagang eceran dan perangkat kelurahan selesai. Pemkot belum menyebut jadwal pasti penindakan lanjutan bagi pedagang yang tetap berjualan tanpa izin.

Follow kabarbaubau.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: sultra.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks