SULAWESI TENGGARA — Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) melaporkan pergerakan jemaah haji Indonesia menuju Arafah dimulai secara bertahap sejak Senin, bertepatan dengan 8 Dzulhijjah 1447 Hijriah. Prosesi wukuf menjadi inti rangkaian ibadah haji yang harus dijalani setiap jemaah.
Kemenhaj mengatur pemberangkatan jemaah dalam tiga tahap waktu berbeda. Tahap pertama dimulai pukul 07.00 Waktu Arab Saudi (WAS), disusul gelombang kedua pukul 11.30 WAS, dan terakhir pukul 16.30 WAS.
Jemaah diimbau untuk tidak bergerak sendiri atau mendahului rombongan. Instruksi ketat diberikan agar seluruh proses berjalan tertib dan aman, serta mematuhi arahan petugas kloter, sektor, dan pembimbing ibadah.
Pemerintah Indonesia menyiagakan layanan kesehatan khusus selama fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Juru Bicara Kemenhaj, Maria Ulfa Assegaf, menyatakan dua pos kesehatan Indonesia telah ditempatkan di lokasi strategis.
"Kami menyiagakan masing-masing satu pos kesehatan Indonesia di Arafah dan di Mina untuk memastikan layanan kesehatan dapat diberikan secara cepat dan optimal selama fase Armuzna," ujar Maria dalam keterangan resmi.
Maria menambahkan, sebanyak 657 petugas Satgas Arafah telah ditempatkan di berbagai titik layanan. Mereka bertugas mendukung kelancaran operasional dan respons cepat jika terjadi kondisi darurat kesehatan.
Beberapa hari menjelang pemberangkatan ke Arafah, Masjidil Haram dipadati ribuan jemaah dari berbagai negara. Aktivitas ibadah seperti tawaf, sai, dan salat berjamaah memenuhi halaman dan lantai masjid. Namun, sejak Senin petang, kepadatan itu berangsur surut.
Jutaan jemaah kini terkonsentrasi di Padang Arafah untuk menjalani wukuf. Setelah puncak ibadah ini, mereka akan bergerak ke Muzdalifah dan Mina untuk menyelesaikan rangkaian haji.