SULAWESI TENGGARA — Laju indeks IDX BUMN20 menjadi cermin suram bagi saham-saham anggota Danantara di bursa. Pada penutupan perdagangan kemarin, indeks yang menghimpun dua puluh emiten BUMN paling likuid itu turun 0,56% secara harian. Secara akumulasi sejak awal 2026, koreksinya sudah mencapai dua digit, yakni 11,73%.
Pelemahan ini terjadi di tengah sentimen global yang masih bergejolak dan aksi ambil untung investor asing. Alhasil, harga saham emiten seperti PT Pertamina (Persero), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk ikut tertekan.
Dengan harga saham yang murah, para analis menilai investor bisa memanfaatkan momentum ini untuk berburu dividen. Strategi ini dinilai lebih rasional ketimbang mengejar keuntungan jangka pendek dari selisih harga jual-beli saham yang saat ini minim.
Emiten BUMN dikenal memiliki kebijakan dividen yang relatif stabil. Tahun lalu, beberapa emiten seperti BRI dan Telkom membagikan dividen dengan yield di atas 4%. Pertamina juga tercatat rutin memberikan dividen kepada negara dan pemegang saham publik.
Meski harga saham jeblok, fundamental emiten BUMN dinilai masih solid. Laba bersih beberapa perusahaan pelat merah seperti Pertamina dan BRI tercatat tumbuh pada kuartal pertama 2026. Hal ini menjadi dasar bagi investor untuk tetap percaya pada pembagian dividen tahun buku 2026.
Analis menyarankan investor untuk mencermati rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) dan laba bersih per saham (EPS) sebelum memutuskan membeli saham. Emiten dengan arus kas kuat dan utang terkendali dinilai lebih aman untuk dijadikan target investasi dividen.
Kondisi ini mengingatkan pada pola investasi saat krisis 2020 lalu, di mana saham BUMN justru menjadi primadona berkat dividennya yang tinggi. Kini, pola serupa berpotensi terulang di tengah pasar yang sedang lesu.