SULAWESI TENGGARA — Keluhan tagihan listrik yang melonjak dalam beberapa waktu terakhir akhirnya mendapat jawaban dari pihak PLN. Manajemen menyebut kenaikan itu bukan semata-mata karena penyesuaian tarif, melainkan lebih pada perubahan kebiasaan konsumsi listrik pelanggan.
Salah satu pemicu utama yang diidentifikasi PLN adalah cuaca ekstrem. Suhu udara yang lebih panas dari biasanya mendorong masyarakat menggunakan pendingin ruangan atau AC lebih lama dan lebih sering.
“Cuaca yang lebih panas, meningkatnya penggunaan alat elektronik seperti AC dan kipas angin, serta bertambahnya waktu di rumah turut mendorong konsumsi listrik,” demikian penjelasan PLN dalam keterangan resminya, dikutip dari Republika.co.id.
Kondisi ini, menurut PLN, wajar terjadi seiring perubahan iklim dan pola hidup masyarakat yang lebih banyak beraktivitas di tempat tinggal.
Selain faktor cuaca, aktivitas di rumah yang meningkat juga menjadi penyebab lain. Mulai dari bekerja dari rumah, sekolah daring, hingga kegiatan domestik lainnya membuat pemakaian listrik harian bertambah.
PLN menegaskan bahwa kenaikan tagihan ini merupakan konsekuensi langsung dari volume pemakaian yang naik, bukan karena adanya perubahan tarif dasar listrik. Perusahaan mengklaim tarif listrik untuk pelanggan rumah tangga masih sesuai ketentuan yang berlaku.
Menanggapi keluhan yang beredar, PLN mengimbau pelanggan untuk lebih bijak dalam menggunakan energi listrik. Langkah sederhana seperti mengatur suhu AC di kisaran 24-25 derajat Celcius, mematikan peralatan elektronik yang tidak dipakai, dan menggunakan peralatan hemat energi bisa membantu menekan tagihan.
Perusahaan juga mendorong pelanggan untuk memantau pemakaian listrik secara mandiri melalui aplikasi resmi atau dengan membaca meteran sendiri secara berkala. Dengan begitu, konsumen bisa mengantisipasi lonjakan tagihan sebelum surat tagihan tiba.
Fenomena kenaikan tagihan ini menjadi pengingat bahwa perubahan kecil dalam kebiasaan sehari-hari bisa berdampak besar pada pengeluaran bulanan rumah tangga.