Kendari punya ritme berbeda begitu matahari tenggelam. Di sepanjang jalan protokol hingga gang sempit, lampu-lampu tenda mulai menyala pukul 17.30 WITA. Aroma sambal tumis, ikan bakar, dan pisang goreng bergerak menyatu dengan suara obrolan warga yang baru pulang kerja. Bagi perantau atau wisatawan yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Sulawesi Tenggara, mencari pusat kuliner malam yang terpercaya—bukan sekadar ramai karena viral—butuh panduan yang tepat.
Artikel ini mengulas delapan titik kuliner malam yang sudah bertahun-tahun menjadi pilihan tetap warga lokal. Bukan sekadar daftar nama, tapi juga informasi harga, jam buka, dan menu andalan yang membuat tempat-tempat ini tak pernah sepi. Mulai dari tenda sederhana di pinggir jalan hingga lapak di pusat keramaian, semuanya punya cerita rasa yang berbeda.
Terletak di Jalan Dr. Sutomo, tepat di depan Pasar Mandonga, lokasi ini adalah episentrum kuliner malam Kota Kendari. Puluhan tenda berjejer menjual ikan bakar, sop saudara, hingga pisang epe khas Makassar yang sudah diadaptasi lidah lokal. Harga seporsi nasi ikan bakar mulai Rp20.000 sudah termasuk sambal dan lalapan.
Pengunjung mulai berdatangan sejak pukul 18.00 WITA. Puncak keramaian terjadi pukul 20.00–22.00 WITA, terutama akhir pekan. Tips dari pedagang lama di sini: datang sebelum pukul 19.00 jika ingin mendapatkan pilihan ikan segar seperti cakalang atau tuna bakar yang masih hangat.
Kompleks Pujasera Eks MTQ di Jalan Mayjen S. Parman menjadi alternatif bagi yang mencari suasana lebih tertata. Berbeda dengan Pasar Mandonga yang lebih tradisional, di sini pengunjung bisa duduk di kursi plastik panjang sambil memesan dari berbagai stan. Menu andalan: cumi goreng tepung, nasi goreng kampung, dan aneka sate.
Harga makanan berkisar Rp15.000 hingga Rp35.000. Minuman es campur atau es teler dijual Rp8.000–Rp12.000. Lokasi ini buka hingga pukul 23.30 WITA. Akses masuk gratis, tapi pengelola mematok tarif parkir Rp2.000 untuk motor dan Rp5.000 untuk mobil.
Setiap malam Minggu, area Lapangan Kantor Gubernur Sulawesi Tenggara berubah menjadi pasar dadakan. Pedagang kaki lima berjejer di sisi barat dan utara lapangan. Menu paling laris adalah jagung bakar, sosis bakar, dan aneka gorengan. Harga mulai Rp5.000 per tusuk.
Suasana di sini lebih santai. Banyak keluarga membawa tikar dan duduk di rumput sambil menikmati makanan. Waktu terbaik datang pukul 18.30 WITA, sebelum lapangan terlalu padat. Tidak ada tarif parkir resmi, cukup sediakan uang receh untuk juru parkir liar yang kadang muncul.
Di Kota Baubau, Pasar Senggol yang berlokasi di kawasan Pantai Kamali menjadi pusat kuliner malam paling ramai. Berbeda dengan pasar malam di Kendari yang tersebar, Baubau memusatkan aktivitas kulinernya di satu titik. Menu ikonik: kapurung—sup sagu khas Sulawesi Selatan yang sudah menjadi favorit warga Baubau.
Seporsi kapurung dihargai Rp15.000–Rp20.000. Selain itu, ada ikan bakar rica-rica dengan harga Rp25.000. Pasar Senggol buka setiap hari pukul 17.00–24.00 WITA. Akhir pekan, jumlah pengunjung bisa mencapai 500–800 orang per malam, menurut pengelola setempat.
Lapangan Haluoleo di pusat Kota Kendari bukan hanya tempat olahraga. Setiap malam, pedagang makanan ringan berjejer di sepanjang pagar lapangan. Es campur, pisang goreng, dan martabak menjadi primadona. Harga mulai Rp10.000.
Lokasi ini ramai dikunjungi mahasiswa dan pekerja kantoran yang ingin nongkrong santai. Banyak yang datang sambil membawa laptop atau sekadar duduk di bangku taman. Jam ramai pukul 19.00–21.00 WITA. Tidak ada biaya masuk, parkir gratis asal tidak parkir di area terlarang.
Di Kabupaten Kolaka, Pasar Rakyat yang terletak di Jalan Trans Sulawesi menjadi titik kumpul kuliner malam. Berbeda dengan pasar tradisional pada umumnya, di sini ada tenda khusus yang menjual aneka sate dan sup. Sate kerbau menjadi menu andalan, dengan harga Rp20.000 per porsi (10 tusuk).
Pedagang mulai berjualan pukul 17.30 WITA. Suasana pasar lebih sepi dibandingkan Kendari, tapi justru cocok untuk yang ingin menikmati makanan tanpa antre panjang. Warga lokal merekomendasikan sate dengan bumbu kacang yang dicampur irisan cabai rawit hijau.
Jalan Bung Tomo, tepatnya di kelurahan Bonggoeya, punya deretan tenda yang buka hingga dini hari. Menu andalan: mie tek-tek dan nasi goreng spesial. Harga Rp12.000–Rp18.000 per porsi. Keunikan di sini, setiap tenda punya varian sambal rahasia yang tidak dijual di tempat lain.
Lokasi ini sering dijadikan tempat nongkrong komunitas motor dan anak muda. Tidak heran jika pukul 22.00 WITA justru menjadi jam paling ramai. Parkir motor agak sulit karena bahu jalan sempit, jadi disarankan datang lebih awal.
Pelabuhan Feri Baubau bukan hanya tempat transit. Di area depan pelabuhan, setiap malam berdiri puluhan lapak yang menjual makanan laut bakar. Udang bakar, cumi isi, dan ikan baronang menjadi pilihan utama. Harga mulai Rp30.000 per porsi.
Pemandangan laut dan angin malam menjadi nilai tambah. Banyak pengunjung yang sengaja datang untuk makan sambil menunggu kapal feri. Waktu terbaik pukul 18.30–20.00 WITA. Hati-hati dengan debu dari kendaraan yang melintas, pilih tempat duduk yang agak menjauh dari jalan raya.
1. Berapa rata-rata budget makan di pusat kuliner malam Kendari?
Budget Rp30.000–Rp50.000 per orang sudah cukup untuk satu porsi makanan utama dan satu minuman. Jika hanya ingin jajan ringan, Rp10.000–Rp15.000 sudah bisa menikmati gorengan atau es campur.
2. Apa makanan khas Sulawesi Tenggara yang wajib dicoba?
Ikan bakar cakalang, kapurung, dan pisang epe. Untuk yang suka pedas, coba sambal dabu-dabu yang segar dan banyak dijual di Pasar Malam Mandonga.
3. Jam berapa pusat kuliner malam mulai ramai?
Rata-rata mulai ramai pukul 18.30–19.30 WITA. Puncak keramaian antara pukul 20.00–22.00 WITA. Beberapa tempat seperti Jalan Bung Tomo justru baru ramai setelah pukul 22.00 WITA.
4. Apakah aman untuk wisatawan asing atau perempuan sendirian?
Relatif aman. Warga lokal terbiasa dengan pengunjung asing. Namun, tetap waspada terhadap pencopetan di area padat seperti Pasar Malam Mandonga. Simpan barang berharga di tas kecil yang selalu dalam jangkauan.
5. Apakah semua lokasi menerima pembayaran digital?
Mayoritas pedagang di Pujasera Eks MTQ dan Pasar Senggol Baubau sudah menerima QRIS. Namun, di lapak-lapak kecil seperti di Lapangan Kantor Gubernur, sebagian besar masih tunai. Siapkan uang receh.
Delapan pusat kuliner malam ini bukan sekadar tempat mengisi perut. Mereka adalah ruang sosial yang menghidupkan malam di Sulawesi Tenggara. Dari sate kerbau Kolaka hingga ikan bakar Baubau, setiap piring menyimpan cerita tentang bagaimana warga lokal menikmati hidup setelah seharian bekerja. Tidak perlu ragu mencoba semuanya—selera Anda sendiri yang akan menjadi hakim terbaik.