MUNA — Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon mengonfirmasi bahwa seluruh tahapan sidang penetapan status oleh Tim Ahli Cagar Budaya Nasional telah rampung pada pekan lalu. "Insya Allah awal Agustus ya sebagai cagar budaya nasional," ujarnya saat dihubungi di Muna, Minggu.
Hasil riset lintas perguruan tinggi dalam dan luar negeri yang melibatkan Griffith University Australia serta Balai Pelestarian Kebudayaan pada 22 Januari 2026 menjadi titik balik. Pengujian saintifik menggunakan metode laser ablation uranium-series membuktikan bahwa bidang pigmen visual purba berukuran 14 cm kali 10 cm di Liang Metanduno memiliki usia setidaknya 67.800 tahun.
Temuan ini memecahkan rekor dunia sebelumnya yang berada di Leang Karampuang, Maros Pangkep, Sulawesi Selatan yang berusia 51.200 tahun. Bahkan, angka tersebut 1.100 tahun lebih tua dari batas minimum cap tangan purba di Maltravieso, Spanyol yang dikaitkan dengan Neanderthal.
Fadli Zon menilai bukti arkeologis ini berpotensi menantang dominasi teori migrasi tunggal Out of Africa. "Selama ini ilmu pengetahuan pun ada satu pengaruh dari kolonialisme, mereka selalu melihat kita ini relatif lebih muda dan pusatnya di Eropa sana. Narasi migrasi manusia bisa saja berbentuk dua arah atau multiple traffic, termasuk adanya potensi Out of Nusantara atau Out of Sulawesi," sebutnya.
Untuk mengoptimalkan perlindungan terhadap ancaman degradasi fisik akibat perubahan iklim, Kemenbud RI berkomitmen membangun Pusat Informasi Lukisan Purba di Kepulauan Muna. Selain itu, kementerian menginstruksikan pendokumentasian seluruh lukisan cadas prasejarah di wilayah Muna, Maros Pangkep, Kalimantan, hingga Raja Ampat ke dalam sebuah buku komprehensif.
Replika visual berskala tinggi juga akan dihadirkan di Museum Provinsi Sulawesi Tenggara sebagai etalase edukasi publik. Fadli Zon menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, Pemerintah Kabupaten Muna, Pemerintah Desa Liangkabori, para pemangku adat, peneliti, komunitas budaya, serta seluruh masyarakat yang secara lintas generasi merawat kawasan cadas tersebut.
Melalui festival dan penetapan status ini, Fadli menilai Indonesia kembali membuka babak krusial dalam sejarah umat manusia. Situs tersebut dinilai menyimpan salah satu bukti peradaban tertua di dunia dengan bentang sejarah melewati 2.700 generasi manusia modern (Homo Sapiens).