SULAWESI TENGGARA — Prancis gagal total di Dallas Stadium. Tim asuhan Didier Deschamps tertinggal 0-1 di babak pertama setelah Lucas Digne dengan ceroboh menyapu kaki Lamine Yamal di kotak penalti. Mikel Oyarzabal sukses mengeksekusi penalti pada menit ke-35. Pedro Porro kemudian menggandakan keunggulan Spanyol seusai jeda, memastikan langkah La Roja ke partai puncak.
Kekalahan ini menjadi yang pertama bagi Prancis sepanjang turnamen. Sebelumnya, Les Bleus selalu memenangi enam laga beruntun sejak fase grup. Namun, di momen paling krusial, performa mereka justru ambruk.
Patrick Vieira, yang pernah menjadi rekan setim Deschamps saat juara dunia 1998, tidak menahan kekecewaannya. "Saya pikir tim Prancis tidak datang ke lapangan di babak pertama ini. Ini kekecewaan besar," ujar Vieira kepada ITV.
Mantan gelandang Arsenal itu menyoroti kegagalan Prancis memberikan tekanan kepada Spanyol. "Saya merasa Spanyol terlalu nyaman menguasai pertandingan. Saya ingin melihat salah satu gelandang bertahan maju lebih berani, menciptakan situasi empat lawan empat untuk menekan mereka. Saat ini Spanyol melakukan apa yang kami harapkan dan mereka sangat nyaman dengan bola," tambah Vieira.
Statistik menjadi bukti betapa buruknya penampilan Prancis. Tim juara dunia 2018 itu baru mencatatkan tembakan tepat sasaran pertama pada menit ke-81. Sepanjang laga, gawang Spanyol nyaris tidak terancam.
Kendala lain datang dari lini belakang. William Saliba, bek Arsenal, harus ditarik keluar sebelum jeda karena cedera punggung. Posisinya digantikan oleh Maxence Lacroix dari Crystal Palace. Kondisi ini membuat pertahanan Prancis semakin goyah menghadapi tekanan Spanyol yang disiplin.
Kekalahan ini menutup peluang Prancis untuk menjadi juara dunia tiga kali beruntun (2018, 2022, 2026). Ambisi itu kini tinggal kenangan. Spanyol, di sisi lain, menunjukkan organisasi permainan yang solid sepanjang turnamen dan layak melaju ke final.
Bagi Deschamps, ini adalah pukulan telak. Tim yang tampil dominan sejak Piala Dunia 2022 tiba-tiba kehilangan identitas di laga hidup-mati. Tidak ada agresivitas, tidak ada kreativitas, dan yang paling menyakitkan: tidak ada perlawanan berarti.