KONAWE — Sebanyak 2.850 titik di Kabupaten Konawe menjadi target verifikasi arah kiblat dalam Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat. Angka itu merupakan bagian dari target 28.100 titik di Provinsi Sulawesi Tenggara, dari total 1.448.000 titik secara nasional yang meliputi masjid, musala, madrasah, pondok pesantren, perkantoran, hingga rumah-rumah masyarakat.
Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Konawe, H. Hasrun Taleo, menegaskan bahwa gerakan ini bukan sekadar kegiatan seremonial. Menurutnya, program ini merupakan gerakan edukatif yang memadukan ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai keagamaan.
Rashdul Kiblat adalah momen istimewa ketika Matahari berada tepat di atas Ka'bah. Pada saat itu, bayangan benda yang berdiri tegak lurus akan mengarah langsung ke Ka'bah, sehingga bisa dijadikan acuan yang sangat akurat untuk menentukan arah kiblat.
Untuk wilayah Indonesia bagian tengah (WITA), pengamatan dilakukan tepat pukul 17.27 WITA. Sementara untuk wilayah Indonesia bagian barat (WIB) pada pukul 16.27 WIB, sesuai standar Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Masyarakat bisa melakukan pengecekan secara mandiri dengan cara sederhana. Cukup siapkan tongkat atau benda yang dapat berdiri tegak lurus di permukaan datar. Saat waktu pengamatan tiba, beri tanda pada ujung bayangan tongkat, lalu tarik garis menuju pangkal tongkat. Garis itulah yang menunjukkan arah menuju Ka'bah.
“Gerakan Nasional Indonesia Berkiblat bukan hanya tentang memastikan arah kiblat yang tepat, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat keimanan dan mempererat persaudaraan dalam keberagaman,” ujar Hasrun Taleo.
Kemenag Konawe mengajak para penyuluh agama, penghulu, pengurus masjid dan musala, kepala madrasah, serta pengelola pondok pesantren untuk berpartisipasi aktif. Selain memastikan ketepatan arah kiblat, kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan literasi masyarakat mengenai ilmu falak dan pemanfaatan fenomena astronomi dalam kehidupan beragama.
Hasrun menambahkan, ketepatan arah kiblat merupakan aspek penting dalam pelaksanaan salat. Masyarakat diimbau memanfaatkan momentum Rashdul Kiblat yang hanya terjadi pada waktu-waktu tertentu setiap tahun untuk melakukan pengecekan secara mandiri.
Melalui gerakan serentak di seluruh Indonesia ini, Kemenag berharap semakin banyak masyarakat memahami pentingnya verifikasi arah kiblat. Masjid, musala, dan tempat ibadah lainnya diharapkan memiliki arah kiblat yang semakin akurat sebagai wujud ikhtiar menyempurnakan ibadah.