SULAWESI TENGGARA — Survei yang dilakukan oleh Kadin Indonesia ini memberikan gambaran jelas tentang prioritas dunia usaha saat ini. Di tengah volatilitas pasar keuangan global yang dipicu oleh kebijakan suku bunga tinggi bank sentral AS (The Fed), pengusaha menilai risiko fluktuasi rupiah lebih mengancam kelangsungan bisnis dibandingkan biaya pinjaman yang mahal.
Ketidakpastian nilai tukar menjadi momok utama bagi perusahaan, terutama yang bergantung pada bahan baku impor atau memiliki utang dalam denominasi dolar AS. Pelemahan rupiah secara tiba-tiba bisa langsung menggerus margin keuntungan dan mengacaukan perencanaan arus kas.
“Bagi eksportir, fluktuasi kurs memang bisa memberikan keuntungan sesaat. Namun bagi mayoritas pelaku usaha, terutama sektor manufaktur dan ritel yang mengimpor bahan baku, stabilitas rupiah adalah harga mati,” demikian inti temuan survei tersebut.
Survei Kadin ini menjadi masukan penting bagi Bank Indonesia (BI) yang terus berada dalam dilema. Di satu sisi, tekanan inflasi global menuntut suku bunga tinggi untuk menjaga stabilitas. Di sisi lain, sektor riil mendambakan suku bunga rendah untuk mendorong ekspansi kredit dan investasi.
Hasil survei secara eksplisit menyatakan bahwa mayoritas responden lebih memilih BI untuk fokus menjaga rupiah tetap stabil ketimbang mengejar penurunan suku bunga acuan (BI Rate). Ini menunjukkan pemahaman pengusaha bahwa suku bunga rendah tidak akan banyak berarti jika nilai tukar tidak terkendali.
Bagi investor di pasar saham dan obligasi, hasil survei ini memberikan sinyal bahwa tekanan terhadap rupiah masih akan menjadi perhatian utama. Selama dolar AS masih perkasa, BI cenderung akan mempertahankan sikap hawkish-nya untuk menahan pelemahan rupiah lebih lanjut.
Konsekuensinya, sektor-sektor yang sensitif terhadap suku bunga tinggi seperti properti dan konsumer mungkin akan menghadapi prospek yang lebih tertahan. Sebaliknya, sektor komoditas dan eksportir yang diuntungkan oleh pelemahan rupiah bisa menjadi pilihan defensif.
Pelaku bisnis pun disarankan untuk terus melakukan lindung nilai (hedging) atas eksposur valuta asing mereka. Strategi diversifikasi sumber bahan baku ke dalam negeri juga menjadi opsi yang semakin relevan di tengah ketidakpastian nilai tukar ini.