SULAWESI TENGGARA — Kekalahan agregat dari Jagiellonia Bialystok di babak kualifikasi Liga Europa memang pahit. Namun, secara paradoks, tersingkirnya Rangers ke kompetisi kasta ketiga Eropa itu justru meningkatkan peluang McInnes mempersembahkan trofi pada musim perdananya. Superkomputer mungkin punya angka pastinya, tetapi para penggemar yang sudah melontarkan kritik pedas tampaknya tidak sabar menunggu kalkulasi tersebut.
Kebiasaan menuntut hasil instan di era media sosial memang kontras dengan tradisi Ibrox. Graeme Souness, misalnya, memulai karier sebagai pemain-manajer Rangers dengan kartu merah di babak pertama pada debut liganya melawan Hibs, usai aksi balas dendam yang salah sasaran. Rangers kalah 2-1 di laga itu dan kembali tumbang di pertandingan ketiga. Namun, musim itu berakhir dengan gelar juara liga pertama klub dalam sembilan tahun.
Kisah serupa terulang pada 1998. Dick Advocaat sempat dibuat malu setelah timnya tertinggal 3-0 dari Shelbourne di leg pertama kualifikasi Liga Champions. Meski akhirnya lolos, kekalahan di laga perdana liga memicu kritik. Sorakan "Dic-Advocaat out!" tak pelak terdengar, padahal musim itu berakhir dengan sapu bersih treble domestik.
McInnes kini menghadapi situasi serupa. Satu poin dari dua laga liga dan kegagalan melaju di babak kualifikasi Eropa membuatnya dijuluki "orang mati yang masih berjalan" oleh sebagian pendukung. Padahal, dua dari empat laga tersebut terjadi di kompetisi yang peluangnya memang tipis sejak awal. Keputusan untuk menghakimi masa depan seorang manajer hanya berdasarkan empat pertandingan adalah bentuk budaya negatif yang merusak.
Kritik yang dilontarkan sebelum musim bergulir lebih dari beberapa pekan hanya akan menciptakan lingkungan yang tidak sehat. Banyak pihak lebih memilih menjadi benar daripada bahagia, sebuah fenomena yang menjadi noda dalam sepak bola modern. Padahal, sejarah telah membuktikan bahwa awal yang buruk tidak pernah menjadi penghalang menuju kejayaan di masa depan.
Langkah McInnes selanjutnya akan menjadi ujian sesungguhnya. Sorotan kini tertuju pada bagaimana ia membangkitkan mental skuad setelah tersingkir dari Eropa dan meraih hasil buruk di liga. Pertandingan kandang berikutnya akan menjadi barometer dukungan publik terhadapnya, apakah tetap setia atau semakin keras mengkritik.
Keputusan untuk tetap tenang dan fokus pada proses jangka panjang, alih-alih bereaksi terhadap tekanan eksternal, akan menentukan apakah McInnes mampu mengikuti jejak Souness dan Advocaat. Satu hal yang pasti: di Glasgow, kesabaran adalah komoditas yang paling langka dan paling berharga.