KENDARI — Kehidupan Suku Bajo di Sulawesi Tenggara memiliki keterikatan yang tidak bisa dipisahkan dari perahu sampan. Berbeda dengan masyarakat daratan yang menggunakan sepeda motor atau mobil untuk bepergian, warga yang bermukim di atas laut ini menjadikan perahu sebagai alat transportasi utama mereka.
Perahu sampan bukan sekadar alat penyeberangan. Ia adalah kaki kedua bagi warga Bajo untuk menjangkau pasar, sekolah, tempat ibadah, hingga rumah kerabat yang lokasinya tersebar di gugusan pulau.
Setiap pagi, deretan perahu sampan terlihat bersandar di antara tiang-tiang rumah panggung. Anak-anak Bajo dengan lincahnya melompat dari teras rumah ke perahu, lalu mendayung menuju sekolah. Ibu-ibu juga tak kalah cekatan mengayuh perahu sambil membawa dagangan ke pasar terapung terdekat.
"Karena rumah suku Bajo terletak di atas air, maka alat transportasi yang mereka gunakan adalah perahu sampan. Mereka sudah terbiasa menggunakan alat transportasi yang satu ini," demikian gambaran yang terekam dalam penelusuran Tanah Air Beta Trans TV.
Keakraban warga Bajo dengan perahu sampan terbentuk sejak usia dini. Anak-anak yang baru beranjak besar sudah diajarkan cara mengayuh dan menyeimbangkan perahu oleh orang tua mereka. Keterampilan ini bukan hanya soal mobilitas, melainkan juga bagian dari identitas budaya bahari yang kuat.
Kepiawaian itu membuat mereka mampu melintasi perairan dengan tenang, bahkan saat cuaca sedang tidak bersahabat. Perahu sampan yang terkesan sederhana ini terbukti tangguh menemani aktivitas harian warga di kawasan pesisir dan kepulauan.
Pola transportasi ini menunjukkan kearifan lokal yang beradaptasi dengan kondisi geografis. Ketimbang memaksakan pembangunan jalan di atas laut, masyarakat Bajo justru mengoptimalkan potensi perairan sebagai jalur penghubung antarwilayah.
Keberadaan perahu sampan juga menjadi penanda bahwa pembangunan tidak selalu harus identik dengan infrastruktur darat. Bagi Suku Bajo, laut adalah jalan raya mereka, dan perahu adalah kendaraan yang menghubungkan satu kehidupan dengan kehidupan lainnya di Sulawesi Tenggara.