SULAWESI TENGGARA — Premier League kembali bergulir akhir pekan ini setelah jeda internasional yang diwarnai vonis Manchester City. Dua laga menjadi sorotan utama: Oliver Glasner menghadapi mantan klubnya Crystal Palace, sementara Manchester City bertandang ke Anfield untuk pertama kalinya sejak putusan diumumkan.
Jeda internasional panjang yang didominasi kabar vonis Manchester City akhirnya berakhir. Kompetisi domestik Inggris kembali memainkan pertandingan pada Sabtu, dengan sejumlah laga langsung menyita perhatian karena konteks yang menyertainya.
Dua pertandingan paling dinanti datang dari pertemuan Crystal Palace melawan Nottingham Forest dan lawatan Manchester City ke markas Liverpool. Keduanya membawa cerita yang jauh dari sekadar urusan taktik dan poin di klasemen.
Oliver Glasner akan mengunjungi bekas markasnya, Selhurst Park, untuk pertama kalinya sejak meninggalkan Crystal Palace dan bergabung dengan Nottingham Forest. Pelatih asal Austria itu meninggalkan warisan besar di London selatan.
Selama menangani Palace, Glasner mengakhiri penantian panjang klub akan trofi mayor dengan menjuarai Piala FA, lalu menambah gelar Community Shield dan Conference League. Pencapaian itu membuatnya disebut-sebut sebagai salah satu manajer terbaik dalam sejarah Palace.
Kepergiannya ke Forest sempat mengejutkan banyak pihak, terutama karena terjadi saat ia tengah meliput Piala Dunia bersama timnas Inggris. Ketegangan dengan manajemen Palace soal ambisi klub disebut menjadi pemicu utama kepindahannya.
Sambutan suporter Palace diprediksi terbelah. Sebagian ingin memberi penghormatan atas jasa Glasner, sebagian lain kecewa karena ia memilih klub yang banyak dianggap bertanggung jawab atas degradasi Palace dari Europa League musim lalu.
Manchester City akan melakoni laga tandang pertamanya sejak vonis diumumkan, dan jadwal mempertemukan mereka dengan Liverpool di Anfield pada Minggu sore. Rivalitas kedua klub dalam beberapa tahun terakhir membuat atmosfer pertandingan diprediksi memanas.
Suporter Liverpool diperkirakan menyiapkan aksi khusus menyambut kedatangan City. Publik sepak bola Inggris menantikan bagaimana para pendukung City merespons tekanan yang kini mengarah ke klub mereka setelah bertahun-tahun mendominasi.
Pertandingan di Anfield menjadi ujian mental tersendiri bagi skuad asuhan Pep Guardiola, yang harus tampil di hadapan pendukung lawan yang dikenal vokal.
Selain drama di luar lapangan, Premier League musim ini menunjukkan pergeseran pendekatan permainan. Sejumlah tim mulai meninggalkan gaya menguasai bola demi kontrol penuh dan beralih ke pendekatan yang lebih langsung.
Gaya Guardiola yang bertahun-tahun menjadi rujukan di Inggris pun mengalami penyesuaian. Bahkan City disebut mulai lebih sering memainkan bola ke depan lebih cepat menjelang akhir era kepelatihannya.
Penekanan pada pressing tinggi juga meningkat. Brighton memperlihatkan hal itu lewat penampilan impresif melawan Arsenal sebelum jeda internasional.
Kedatangan banyak manajer baru pada musim panas membuat perkembangan Liverpool, Chelsea, dan Manchester City dalam beberapa pekan ke depan layak dicermati.
Klaim bahwa Premier League adalah liga terbaik dunia kembali dipertanyakan. Hanya lima pemain dari klub Inggris yang masuk daftar nominasi Ballon d'Or tahun ini, indikasi bahwa bintang-bintang terbesar masih bermain di luar Inggris.
Klub-klub Inggris memang mendominasi kompetisi Eropa dalam beberapa tahun terakhir. Arsenal, Aston Villa, dan Crystal Palace sama-sama mencapai final pada musim lalu.
Meski demikian, daya tarik bermain untuk Real Madrid, Barcelona, Bayern Munich, dan Paris Saint-Germain masih dianggap lebih besar dibanding berkarier di Premier League bagi sebagian pemain top dunia.