Pencarian

Tony Fadell Ungkap Alasan Gadget AI Generasi Pertama Gagal di Pasaran

Rabu, 07 Oktober 2026 • 21:46:01 WIB
Tony Fadell Ungkap Alasan Gadget AI Generasi Pertama Gagal di Pasaran
Tony Fadell berbicara dalam pidatonya di MIT Future Fest.

SULAWESI TENGGARA — Tony Fadell, sosok di balik iPod dan iPhone, menyebut gadget AI generasi pertama seperti Rabbit R1 dan Humane AI Pin gagal karena tidak menyelesaikan masalah nyata pengguna. Ia menilai gelombang berikutnya harus mampu membangun kepercayaan konsumen sebelum bisa diterima pasar secara luas.

Pendiri Nest sekaligus pencipta iPod, Tony Fadell, menyampaikan kritik tajam terhadap gelombang pertama perangkat AI dalam pidatonya di MIT Future Fest. Dalam paparannya, ia menampilkan tiga perangkat yang sudah dihentikan produksinya: Rabbit R1, Humane AI Pin, dan Limitless pendant.

Fadell mengaku pernah dihubungi oleh perusahaan-perusahaan pembuat perangkat tersebut untuk dimintai bantuan. Ia menolak. Alasannya sederhana: ketiganya tidak menjawab kebutuhan dasar pengguna.

Mengapa Gadget AI Generasi Pertama Gagal

Menurut Fadell, produk-produk itu hanya menawarkan teknologi yang menarik bagi kalangan tertentu, tetapi tidak punya manfaat jelas di kehidupan sehari-hari. "Dalam setiap kasus, tidak ada satu pun yang memenuhi kebutuhan apa pun. Itu hanya teknologi menarik untuk para geek," ujarnya.

Perangkat AI awal menjanjikan kemudahan layaknya asisten pribadi, namun performanya jauh dari ekspektasi. Bahkan jika berfungsi baik, mayoritas konsumen belum pernah merasakan punya asisten pribadi dan tidak tahu bagaimana memanfaatkannya.

Fadell menyoroti kesenjangan persepsi ini dengan data. "Kurang dari 0,01% populasi dunia yang pernah punya asisten manusia. Jadi ketika perusahaan bilang ingin membuat asisten, itu suara segelintir orang yang sudah punya asisten," katanya.

Membangun Kepercayaan Lebih Rumit dari Sekadar Teknologi

Fadell berbagi pengalaman pribadinya. Butuh waktu bertahun-tahun baginya untuk memahami cara terbaik memanfaatkan asisten manusia, lalu mempercayainya dengan data sensitif seperti akses bank dan penjadwalan meeting.

Prinsip serupa berlaku untuk asisten AI. Pengguna tidak akan langsung memberikan kredensial bank di hari pertama. Kepercayaan harus dibangun bertahap, dan itu proses panjang yang belum tentu siap dilalui konsumen umum.

Kekhawatiran soal keamanan bukan tanpa dasar. Meta baru saja meluncurkan Muse, asisten AI serbaguna mereka. Seorang peneliti keamanan cepat menemukan celah serius setelah peluncuran. Laporan 404 Media bahkan menyebut sejumlah karyawan Meta menemukan masalah keamanan yang memicu perbaikan darurat lintas tim sebelum produk dirilis.

Apple Dianggap Paling Siap, tapi Punya Kelemahan

Fadell menilai Apple sebagai satu-satunya perusahaan yang saat ini bisa mewujudkan asisten AI yang benar-benar dipercaya. Apple punya ekosistem hardware lengkap, chip sendiri, dan seluruh komponen pendukung. "Tapi mereka tidak punya semua teknologi AI-nya," ujar Fadell.

Apple memang tertinggal dalam model AI proprietary. Siri AI terbaru berjalan di atas versi kustom Gemini milik Google. Meski begitu, Apple unggul jauh dalam hal hardware dan kepercayaan pengguna.

Fadell mencontohkan Face ID sebagai bukti Apple berhasil mendapat kepercayaan konsumen untuk berbagi data biometrik. Caranya: memproses data sensitif langsung di perangkat, bukan mengirimkannya ke cloud.

Mengapa Meta dan OpenAI Bikin Perangkat Sendiri

Fadell berteori bahwa perusahaan seperti Meta dan OpenAI beralih ke gadget karena tidak punya miliaran perangkat beredar seperti Apple. Mereka tidak punya akses langsung ke sensor di ponsel pengguna.

Untuk mendapatkan data video, audio, GPS, dan lainnya, mereka harus meminta izin satu per satu. Alternatifnya, membuat perangkat sendiri yang sudah dilengkapi semua sensor, lalu menghubungkannya ke ponsel lewat Bluetooth atau Wi-Fi.

Fadell memprediksi asisten AI yang sukses nantinya harus beroperasi sepenuhnya on-device. Tujuannya ganda: menjaga privasi dan membuat teknologi tetap ringan. Ia tidak percaya pusat data akan mendominasi masa depan komputasi.

"Saya sudah melihat pola ini terjadi di era internet. Kekuatan komputasi di perangkat sekarang sangat besar, dan semuanya masih berjalan dengan baterai," tutupnya.

Follow kabarbaubau.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: techcrunch.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks