SULAWESI TENGGARA — Kehamilan sering dianggap masa paling membahagiakan, padahal banyak ibu muda justru merasa lelah, cemas, dan takut menjalaninya. Lalu bagaimana Islam memandang perasaan berat seperti ini? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Rasa sedih, takut menghadapi persalinan, atau tidak menikmati kehamilan bukanlah hal yang terlarang. Sejumlah ulama yang merujuk pada Rumaysho, Muslim.or.id, dan Al Manhaj menegaskan bahwa perasaan berat tidak otomatis membuat seorang Muslimah berdosa. Yang menjadi ukuran bukan munculnya perasaan itu, melainkan bagaimana seseorang menyikapinya lewat hati, lisan, dan perbuatan.
Dalam Islam, munculnya perasaan sedih atau berat menjalani kehamilan bukan termasuk dosa. Sebab, perasaan di dalam hati tidak selalu bisa dikendalikan oleh seseorang.
Allah SWT berfirman:
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya." (QS Al-Baqarah: 286)
Nabi Muhammad SAW juga mengajarkan bahwa Allah memaafkan apa yang terlintas dalam hati selama tidak diucapkan atau dikerjakan.
Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya Allah memaafkan umatku atas apa yang terlintas dalam hatinya, selama ia tidak mengucapkannya atau mengamalkannya." (HR Bukhari dan Muslim)
Dengan demikian, ketika seorang Bunda merasa lelah, sedih, atau takut menghadapi persalinan, perasaan tersebut tidak serta-merta membuatnya berdosa. Rumaysho menjelaskan bahwa menghadapi takdir yang terasa pahit hendaknya disikapi dengan sabar, yaitu menahan diri agar tidak menunjukkan kegelisahan lewat lisan, hati, maupun anggota badan.
Dalam Islam, sabar tidak menuntut seseorang untuk merasa senang terhadap sesuatu yang secara alami terasa berat. Al Manhaj menjelaskan bahwa sabar menghadapi takdir pahit berarti menahan diri dari murka, menahan lisan dari keluh kesah, dan mengendalikan tubuh dari tindakan penolakan terhadap takdir Allah.
Seorang Bunda tetap boleh merasa lelah atau tidak nyaman menjalani kehamilan, asalkan berusaha menerima bahwa kehamilan itu bagian dari takdir Allah. Muslim.or.id juga membedakan antara ridha terhadap musibah yang sifatnya dianjurkan, dengan sabar menghadapi musibah yang hukumnya wajib.
Artinya, Bunda tidak perlu memaksakan diri merasa bahagia setiap saat. Yang perlu diusahakan adalah tetap bersabar dan tidak menentang ketetapan Allah.
Ketika merasa tidak bahagia dengan kehamilan, seorang Muslimah perlu berhati-hati agar kesedihan tidak berubah menjadi sikap murka kepada Allah. Al Manhaj menjelaskan bahwa orang yang menghadapi musibah terbagi dalam beberapa keadaan, salah satunya murka terhadap musibah lewat hati, lisan, maupun perbuatan.
Ada perbedaan besar antara ucapan "Aku sangat lelah menjalani kehamilan ini" dengan "Aku tidak terima Allah memberiku kehamilan ini". Yang pertama menggambarkan kondisi seseorang yang sedang kesulitan. Yang kedua bisa menjadi bentuk penolakan terhadap ketetapan Allah jika dimaksudkan sebagai protes kepada-Nya.
Karena itu, Bunda perlu menjaga lisan ketika sedang sangat lelah atau emosional.
Mengeluh atau mencurahkan isi hati kepada suami dan keluarga tetap diperbolehkan, selama tidak berubah menjadi bentuk protes terhadap takdir Allah. Rumaysho menegaskan bahwa kesedihan tidak selalu tercela.
Kesedihan justru bisa bernilai terpuji apabila seseorang tetap bersabar dan tidak melampiaskannya dengan perbuatan yang dilarang. Berbagi cerita dengan pasangan bisa menjadi cara sehat untuk meringankan beban, bukan bentuk ketidakridhaan.
Menjalani kehamilan yang berat dengan sabar dapat menjadi ladang pahala bagi seorang Bunda. Setiap rasa lelah, mual, dan cemas yang dihadapi dengan kesabaran akan dicatat sebagai kebaikan. Inilah yang sering tidak disadari banyak ibu hamil.
Bukannya dihitung sebagai dosa, perjuangan Bunda justru bernilai ibadah selama tidak diiringi sikap menolak ketetapan Allah.
Saat merasa berat menjalani kehamilan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan:
Jangan menyalahkan diri karena merasa sedih. Perasaan itu manusiawi, dan Allah Maha Mengetahui batas kemampuan hamba-Nya.
Kehamilan yang berat bukan tanda Bunda kurang bersyukur atau berdosa. Selama hati, lisan, dan perbuatan tetap dijaga dari menolak ketetapan Allah, perasaan lelah dan sedih tidak dihitung sebagai dosa. Justru dengan bersabar, setiap perjuangan Bunda bernilai pahala di sisi-Nya.