SULAWESI TENGGARA — Harga bahan bakar minyak eceran di Bali menembus ratusan ribu rupiah per liter setelah sejumlah oknum menjual kembali BBM lewat media sosial dengan harga tak masuk akal. Praktik ini muncul di tengah krisis BBM yang masih dialami masyarakat Bali hingga Rabu (14/10). Penjualan dilakukan secara terbuka di platform digital, memanfaatkan kelangkaan pasokan yang terjadi di sejumlah wilayah.
Praktik dagang ini terungkap dari rekaman video yang beredar, memperlihatkan penawaran BBM eceran dengan nominal menembus ratusan ribu rupiah per liter. Angka tersebut berkali-kali lipat dari harga resmi yang ditetapkan pemerintah untuk bahan bakar bersubsidi maupun non-subsidi.
Krisis BBM di Bali membuat warga kesulitan memperoleh bahan bakar di sejumlah stasiun pengisian. Antrean panjang dan pembatasan pembelian menjadi pemandangan harian di beberapa SPBU. Kondisi itu membuka celah bagi pedagang eceran untuk menawarkan BBM dengan harga selangit.
Media sosial menjadi kanal utama transaksi. Penjual memasarkan BBM dalam kemasan jeriken atau botol dengan takaran bervariasi. Pembeli yang kehabisan stok di SPBU terpaksa merogoh kocek lebih dalam demi mendapatkan bahan bakar.
Nominal yang dipatok penjual eceran disebut tak masuk akal karena jauh melampaui harga resmi. Selisihnya bisa mencapai puluhan kali lipat, bergantung pada jenis BBM dan lokasi penjualan. Pembeli umumnya adalah pengendara yang terdesak kebutuhan di tengah kelangkaan.
Praktik ini memicu kekhawatiran karena berpotensi memperparah beban masyarakat. Warga yang sudah kesulitan mendapatkan BBM resmi kini harus menghadapi harga yang tidak terkendali di pasar gelap.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak berwenang mengenai langkah penindakan terhadap penjual eceran tersebut. Pengawasan terhadap distribusi BBM di Bali menjadi sorotan mengingat praktik curang ini terjadi secara terbuka di ruang digital.
Masyarakat diimbau melaporkan jika menemukan penjualan BBM dengan harga tidak wajar. Pemerintah daerah dan aparat penegak hukum diharapkan bergerak cepat menindak oknum yang memanfaatkan krisis untuk meraup keuntungan.