FBI Bongkar 40 Laptop Farm Pekerja Palsu Korea Utara di AS

Penulis: Sutomo  •  Rabu, 14 Oktober 2026 | 21:48:01 WIB
FBI menggerebek lebih dari 40 laptop farm Korea Utara di Texas dan menyita 200 perangkat.

SULAWESI TENGGARA — FBI menggerebek lebih dari 40 laptop farm Korea Utara di Texas dan menyita 200 perangkat, hasil kerja sama dengan CrowdStrike. Jaringan pekerja IT palsu ini diperkirakan menyumbang pendapatan hingga 500 juta dolar AS per tahun bagi Pyongyang. Tidak ada penangkapan dalam operasi tersebut karena otoritas memilih membongkar jaringan lebih cepat sebelum jaksa mengajukan dakwaan.

Penyelidik memilih menutup jaringan lebih cepat ketimbang menunggu proses hukum berjalan. Mereka yang terlibat masih bisa dikenai sanksi pidana jika melanjutkan praktik penipuan jarak jauh.

Bagaimana Skema Laptop Farm Berjalan

Korea Utara menempatkan pekerja IT-nya di perusahaan Amerika Serikat dan global dengan identitas palsu. Laptop yang dikirim perusahaan tujuan tidak sampai ke tangan pekerja asli, melainkan ditampung di rumah-rumah di AS yang berfungsi sebagai laptop farm.

Perantara di Amerika memastikan perangkat tetap terhubung dari alamat IP lokal supaya terlihat seolah pekerja berada di dalam negeri. Dari luar, semuanya tampak seperti karyawan remote biasa.

Skema ini menyasar perusahaan rintisan hingga korporasi Fortune 500. Pendapatannya ditaksir mencapai 500 juta dolar AS per tahun, angka yang signifikan di tengah sanksi ekonomi yang membatasi akses Korea Utara ke mata uang asing.

Jejak 110 Milidetik yang Membongkar Penyusup

Departemen TI Amazon pernah menangkap seorang penyusup Korea Utara karena hal sepele: jeda input keyboard 110 milidetik. Keterlambatan itu menunjukkan perangkat sedang dikendalikan dari jarak jauh, bukan dipakai langsung di depan layar.

Kasus tersebut memperlihatkan bagaimana deteksi teknis sederhana bisa menjadi pintu masuk pengungkapan yang lebih besar. Perusahaan kini mulai memantau anomali latensi, pola login, dan pergerakan perangkat untuk mendeteksi pekerja palsu.

Penindakan Sejak Tahun Lalu

Otoritas AS menutup 29 laptop farm Korea Utara di 16 negara bagian pada tahun lalu. Jaringan tersebut memfasilitasi pekerja IT Korea Utara yang menembus lebih dari seratus perusahaan Amerika.

Empat warga AS dan satu warga Ukraina divonis dalam kasus serupa pada November 2025. Departemen Kehakiman juga membuka dakwaan terhadap dua warga AS dan sepuluh warga Korea Utara yang berbasis di China.

Kelompok terakhir disebut menipu lebih dari 3 juta dolar AS dari 70 perusahaan dalam rentang enam tahun sejak 2019. Identitas dua orang lain dalam kasus itu masih disegel.

Perantara Jadi Titik Terlemah

Adam Meyers, yang memimpin operasi kontra-adversari di CrowdStrike, menyebut skema ini "makin umum dan makin rumit." Perusahaan mendeteksi rata-rata dua kasus baru setiap hari pada bulan lalu, meski jumlah sebenarnya diyakini jauh lebih besar.

Perantara di AS menjadi tulang punggung operasi. Tugas mereka menampung laptop kiriman perusahaan dan melewati pemeriksaan keamanan. Awalnya pekerjaan ini tampak mudah, tetapi perlahan permintaan bertambah dan perantara terjebak dalam keterlibatan yang sulit dilepaskan.

"Mereka semacam kecanduan di awal, lalu permintaannya bertambah, dan pada titik itu mereka sudah terlalu dalam," kata Meyers.

Dampak bagi Perusahaan dan Pencari Kerja

Bagi perusahaan teknologi, kasus ini memperkuat urgensi verifikasi identitas dan pemantauan perangkat di lingkungan kerja remote. Perekrutan jarak jauh tanpa pengecekan berlapis membuka celah bagi penyusupan yang merugikan data dan keuangan.

Bagi pencari kerja sah, gelombang pemeriksaan tambahan berpotensi memperlambat proses rekrutmen dan menambah lapisan verifikasi, terutama untuk posisi IT yang banyak diburu pekerja Indonesia di perusahaan global.

Penindakan FBI di Texas menunjukkan skala operasi Korea Utara jauh lebih besar dari yang terlihat. Selama perantara lokal masih tersedia, jaringan serupa diperkirakan terus muncul di negara bagian lain.

Reporter: Sutomo
Sumber: tomshardware.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top