Bayi 24 Hari Diberi Telur Mentah: Risiko Fatal yang Perlu Ibu Waspadai

Penulis: Ragil  •  Sabtu, 17 Oktober 2026 | 09:19:31 WIB
Bayi berusia 24 hari di Surabaya meninggal setelah diduga diberi telur mentah untuk menurunkan demam.

SULAWESI TENGGARA — Bayi berusia 24 hari di Surabaya meninggal setelah diduga diberi telur mentah oleh neneknya untuk menurunkan demam. Kasus ini jadi pengingat keras bahwa ASI eksklusif enam bulan pertama bukan sekadar anjuran, melainkan perlindungan hidup bayi.

Bayi tersebut mulai dirawat di RSUD Dr Soetomo, Surabaya, pada Jumat (9/10/2026) dan sempat menjalani perawatan intensif sebelum meninggal pada Minggu (11/10/2026) di usia 28 hari. Informasi yang beredar menyebut telur mentah diberikan dengan tujuan menurunkan demam.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) langsung merespons kasus ini. Organisasi itu menegaskan pemberian makanan pada bayi harus mengikuti usia, kebutuhan gizi, kesiapan perkembangan, dan keamanan pangan.

Mengapa Telur Mentah Sangat Berbahaya untuk Bayi Baru Lahir

Bayi 24 hari masih berada di periode neonatal. Di fase ini, sistem pencernaan dan kekebalan tubuh belum matang, sehingga asupan apa pun selain ASI berisiko menimbulkan masalah serius.

Ketua Umum IDAI dr Piprim Basarah Yanuarso, SpA, Subsp Kardio (K), menegaskan hal ini dalam pernyataan resmi.

"Telur mentah atau setengah matang tidak dianjurkan untuk diberikan kepada bayi dan anak, terutama karena risiko keamanan pangan," kata dr Piprim seperti dikutip detikcom, Senin (12/10/2026).

1. Pencernaan Bayi Belum Siap Menerima Makanan

Produksi dan aktivitas enzim pencernaan bayi baru lahir belum matang. Tubuh bayi memang dirancang untuk mencerna ASI, bukan makanan padat atau protein hewani mentah.

Pada usia satu bulan, lambung bayi kira-kira sebesar telur bebek, menurut buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Bayi juga masih memiliki tongue thrust reflex, refleks lidah yang mendorong benda asing keluar dari mulut.

Refleks ini tanda alami bahwa bayi belum siap menelan makanan. Memaksakan asupan justru meningkatkan risiko tersedak.

2. Risiko Infeksi Salmonella Meningkat Drastis

Telur mentah bisa tercemar bakteri Salmonella penyebab salmonelosis. Gejalanya diare, demam, muntah, dan dehidrasi.

Orang dewasa saja bisa terinfeksi setelah makan telur mentah atau setengah matang. Pada bayi, risiko ini jauh lebih besar karena sistem imunnya belum berkembang sempurna.

Dehidrasi akibat muntah atau diare berdampak berat pada bayi. Cadangan cairan tubuhnya terbatas, sehingga kondisinya bisa memburuk dengan cepat.

3. ASI Eksklusif Sudah Cukup Sampai 6 Bulan

WHO merekomendasikan ASI eksklusif selama enam bulan pertama. Pada periode itu, bayi tidak membutuhkan tambahan makanan atau minuman lain, termasuk air putih.

ASI mengandung energi, protein, lemak, vitamin, mineral, dan komponen bioaktif yang lengkap untuk tumbuh kembang bayi. Memberi air putih tanpa indikasi medis justru bisa mengganggu keseimbangan elektrolit dan memicu keracunan air.

Artinya, telur mentah pada bayi 24 hari tidak punya dasar kebutuhan gizi sama sekali. Usia tersebut belum waktunya MPASI.

4. Telur Matang Pun Harus Menunggu Usia MPASI

IDAI menegaskan telur mentah atau setengah matang tidak memberi keuntungan gizi yang sebanding dengan risikonya. Telur matang memang sumber protein berkualitas tinggi, tetapi pengenalannya tetap menunggu usia dan kesiapan bayi menerima MPASI, umumnya sekitar 6 bulan.

Kapan Ibu Perlu Segera ke Dokter

Segera bawa bayi ke fasilitas kesehatan jika muncul demam, muntah berulang, diare, lemas, atau menolak menyusu setelah terpapar makanan yang tidak sesuai usianya. Pada bayi baru lahir, gejala ringan bisa berkembang cepat menjadi kondisi kritis.

Konsultasikan juga ke dokter anak sebelum memberikan asupan apa pun selain ASI, terutama bila ada anggapan tradisional di keluarga yang belum terbukti secara medis.

Kasus ini menunjukkan bahwa niat menurunkan demam dengan cara yang salah bisa berujung fatal. ASI eksklusif enam bulan pertama adalah standar yang sudah terbukti melindungi bayi, dan sebaiknya dipegang teguh meski ada saran dari lingkungan sekitar.

Reporter: Ragil
Sumber: health.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top