Pencarian

Pujian Prabowo ke Bahlil Picu Perdebatan Standar Kecerdasan, Pengamat Sebut Kualitas Kepemimpinan Nasional Anjlok

Selasa, 11 Agustus 2026 • 10:45:02 WIB
Pujian Prabowo ke Bahlil Picu Perdebatan Standar Kecerdasan, Pengamat Sebut Kualitas Kepemimpinan Nasional Anjlok
Prabowo menyampaikan pujian terhadap Bahlil Lahadalia dalam pidatonya di Sulawesi Tenggara, Selasa (11/2/2026).

SULAWESI TENGGARA — Kontroversi berawal dari pidato Prabowo yang menegaskan bahwa kecerdasan seseorang tidak ditentukan oleh latar belakang institusi pendidikan. Dalam pernyataannya, Kepala Negara mengapresiasi Bahlil yang dinilai memiliki kapasitas intelektual di atas rata-rata, meski kampus asal Menteri ESDM tersebut tidak dikenal luas.

"Kecerdasan itu bukan dari sekolah menurut saya. Kecerdasan bukan dari sekolah. Dan ini sudah kita buktikan berkali-kali. Hari ini, sekarang kita buktikan lagi Pak Bahlil," ujar Prabowo dalam keterangannya, Selasa (11/2/2026).

Standar Kecerdasan yang Dianggap Merosot

Pernyataan tersebut langsung mendapat respons keras dari Said Didu. Aktivis sosial itu menilai Prabowo justru menurunkan standar kecerdasan yang selama ini dipegang publik, di mana BJ Habibie menjadi tolok ukur utama dengan gelar Doktor Summa Cumlaude dari Jerman.

"Dulu standar kecerdasan adalah Prof. Dr. Ing. B.J. Habibie yang lulus Doktor Summa Cumlaude di Jerman. Sekarang, standarnya adalah Bahlil Lahadalia (kata Pak Prabowo). Kampusnya tidak jelas dan ketahuan ngejar doktor lewat jiplakan desertasi," tegas Said Didu.

Ia bahkan mempertanyakan integritas akademik Bahlil yang disebut meraih gelar doktor melalui plagiarisme karya ilmiah. Tuduhan ini menambah daftar panjang kritik terhadap latar belakang pendidikan Menteri ESDM tersebut.

Pemeringkatan Kualitas Presiden dari Masa ke Masa

Menanggapi polemik ini, dosen lintas budaya sekaligus jurnalis Ali Syarief membuat pemeringkatan kualitas para pemimpin nasional. Menurutnya, mayoritas presiden terdahulu masuk kategori Grade A, namun kualitas kepemimpinan justru merosot pada era pemerintahan terakhir.

"Presiden RI pertama adalah lulusan ITB. Pak Harto Jenderal beneran. Pak Habibie Professor dan ilmuwan. Gus Dur tokoh cendekiawan dan ulama. SBY jenderal intelektual. Grade-nya A. Megawati (Grade C)," kata Ali Syarief.

Penilaian paling tajam ditujukan kepada Joko Widodo yang dinilai memiliki kualitas terendah sepanjang sejarah kepresidenan Indonesia. Bahkan, Ali Syarief menyebut pasangan Jokowi-Gibran Rakabuming Raka sebagai kombinasi terburuk dalam memimpin negara.

"Jokowi dan Gibran (Tak punya ijazah)- kualitas dan standar presiden/wapres RI jadi yang terendah," tegasnya.

Kontras dengan Era Kepemimpinan Sebelumnya

Perdebatan ini memunculkan pertanyaan besar mengenai kriteria pemimpin ideal di mata publik. Soekarno dikenal sebagai orator ulung lulusan ITB, sementara Soeharto dihormati sebagai jenderal militer. Habibie diakui dunia sebagai ilmuwan penerbangan dengan Teori Crack Progression yang legendaris.

Gus Dur dihormati sebagai tokoh cendekiawan dan ulama, sedangkan SBY dikenal sebagai jenderal intelektual dengan pemikiran strategis. Standar-standar inilah yang kemudian dibandingkan dengan kepemimpinan era sekarang.

Prabowo sendiri membela penilaiannya terhadap Bahlil dengan menyebut kecerdasan seseorang bisa lahir dari berbagai faktor, tidak melulu dari pendidikan formal. "Saya kira sekolahnya nggak terlalu terkenal Pak Bahlil. Kalau dicari di internet kampusnya udah nggak ada. Dan itu sudah kita buktikan di mana-mana. Tidak menjamin sekolahnya di mana. Kecerdasan itu mungkin didapat dari jelas dari orang tua," pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, Bahlil Lahadalia belum memberikan tanggapan resmi terkait kritik yang dialamatkan kepadanya. Sementara itu, publik masih menunggu apakah polemik ini akan berdampak pada citra pemerintahan Prabowo di mata masyarakat.

Follow kabarbaubau.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: olenka.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks