Pencarian

Utang Ratusan Triliun dan Ratusan Anak Usaha Berantakan, Restrukturisasi BUMN Karya Butuh Waktu Hingga 2026

Rabu, 19 Agustus 2026 • 16:26:31 WIB
Utang Ratusan Triliun dan Ratusan Anak Usaha Berantakan, Restrukturisasi BUMN Karya Butuh Waktu Hingga 2026
Rapat kerja pembahasan restrukturisasi BUMN Karya di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (19/8).

SULAWESI TENGGARA — Proses pembenahan BUMN Karya, yang meliputi PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI), PT PP (Persero) Tbk, dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk, bukanlah pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam semalam. Dony mengungkapkan, total akumulasi utang dari keempat raksasa konstruksi tersebut mencapai angka yang fantastis, yakni ratusan triliun rupiah.

"Itu kan ratusan triliun utangnya mereka. Ini yang total di antara perusahaan-perusahaan karya itu. Inilah yang pelan-pelan mesti dibereskan," ujar Dony di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (19/8).

Benang Kusut di Level Anak dan Cucu Usaha

Persoalan tidak berhenti di utang. Dony menyoroti kompleksitas struktur korporasi yang menjadi beban tambahan dalam proses konsolidasi. Setiap BUMN Karya rata-rata memiliki lebih dari 20 anak usaha, dan masing-masing anak usaha tersebut punya cucu usaha sendiri yang kondisinya juga tidak sehat.

"Jadi dengan begini sebetulnya bisa membayangkan seperti apa kita bekerja menyelesaikan satu per satu. Di masing-masing karya itu punya anak lagi kan. Ada cucu. Semuanya bermasalah juga. Jadi kita mesti bereskan itu one by one, satu per satu, satu per satu. Inilah yang memakan waktu," tuturnya.

Dony memberikan contoh konkret, seperti masalah yang membelit WIKA Realty, anak usaha WIKA. Selain itu, ada juga proyek LRT City yang mangkrak dan digarap oleh PT Adhi Commuter Properti Tbk (ADCP), anak usaha ADHI. "Dinamika di dalam menyelesaikan ini kan cukup rumit. Teman-teman juga tentu tahu ada yang LRT, nanti ada lagi yang WIKA Realty, ada ini segala macam," kata Dony.

Opsi Merger dan Pailit Ada, tapi Tak Semudah Membalik Telapak Tangan

Di tengah tekanan yang ada, pemerintah sebenarnya memegang opsi untuk mempercepat penyelesaian, misalnya dengan menggabungkan usaha (merger) atau mempailitkan perusahaan. Namun, Dony menegaskan langkah tersebut tidak bisa diambil secara gegabah karena akan memicu efek domino bagi ekosistem bisnis yang lebih luas.

"Kita bisa mergerkan, kita pailitkan, dan sebagainya. Tapi kan kami memikirkan juga dampaknya. Dampaknya apa untuk ekosistem yang lainnya. Jadi memang hati-hati sekali," jelasnya.

Kompleksitas ini, menurut Dony, adalah akumulasi dari masalah yang sudah mengakar lama dan berukuran besar. Karena itu, kehati-hatian menjadi kata kunci agar solusi yang diambil tidak menimbulkan masalah baru di kemudian hari. "Inilah yang memakan waktu yang juga masyarakat harus tahu bahwa

Follow kabarbaubau.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: voi.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks