KENDARI — Data Stasiun Klimatologi Sulawesi Tenggara menunjukkan sebaran titik panas tahun ini terkonsentrasi di wilayah daratan selatan dan tenggara provinsi. Konawe Selatan memimpin dengan 88 titik, terbagi atas 10 titik kepercayaan rendah, 68 menengah, dan 10 tinggi.
Di bawah Konsel, Kabupaten Konawe mencatat 68 titik panas, disusul Bombana 52 titik dan Kolaka 48 titik. Empat daerah itu menyumbang hampir separuh dari total 434 titik yang terdeteksi sepanjang hari pemantauan.
Sebaran Titik Panas di 15 Kabupaten dan Kota
Selain empat daerah dengan jumlah tertinggi, BMKG mendeteksi titik panas di sejumlah wilayah lain. Berikut rinciannya:
- Buton: 32 titik
- Kolaka Timur: 31 titik
- Muna: 29 titik
- Konawe Utara: 25 titik
- Buton Tengah dan Buton Utara: masing-masing 16 titik
- Muna Barat: 13 titik
- Buton Selatan: 9 titik
- Kolaka Utara: 3 titik
- Baubau dan Konawe Kepulauan: masing-masing 2 titik
Kota Kendari dan Kabupaten Wakatobi menjadi dua wilayah yang tidak mencatat titik panas dalam pemantauan tersebut.
Sensor Satelit dan Arti Tingkat Kepercayaan
BMKG memantau titik panas menggunakan sensor VIIRS dan MODIS yang dipasang pada empat satelit: NOAA20, S-NPP, TERRA, dan AQUA. Data ini dipakai untuk mengidentifikasi indikasi awal kebakaran hutan dan lahan melalui anomali suhu permukaan yang lebih tinggi dibanding wilayah sekitarnya.
Tingkat kepercayaan rendah, menengah, dan tinggi menggambarkan seberapa kuat sinyal anomali suhu yang tertangkap sensor. Titik dengan kepercayaan tinggi lebih patut dicurigai sebagai kebakaran aktif, meski tetap butuh verifikasi lapangan.
Mengapa Titik Panas Belum Tentu Berarti Kebakaran
Keberadaan titik panas tidak selalu menandakan kebakaran aktif di lapangan. Titik panas juga berpotensi tidak terdeteksi apabila wilayah tertutup awan atau berada di area yang tidak terjangkau pengamatan satelit.
Artinya, jumlah 434 titik bisa lebih besar dari yang tercatat, bisa juga sebagian di antaranya bukan api sungguhan. Verifikasi lapangan oleh instansi terkait tetap diperlukan sebelum menyimpulkan ada karhutla.
Imbauan Warga di Wilayah Rawan
Masyarakat diimbau menghindari aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah dengan konsentrasi titik panas tinggi seperti Konawe Selatan, Konawe, Bombana, dan Kolaka.
Pembukaan lahan dengan cara membakar dan membuang puntung rokok sembarangan di area kering menjadi pemicu yang paling sering terjadi pada musim kemarau. Warga yang menemukan asap atau api kecil di lahan kosong disarankan segera melapor ke petugas terdekat.