Layar Benteng Putar 18 Film Sineas Sultra di Kepulauan Buton

Penulis: Muammad Amran  •  Minggu, 03 Mei 2026 | 15:40:44 WIB
Pemutaran 18 film karya sineas Sultra dimulai di kawasan Benteng Keraton Wolio, Baubau.

BAUBAU — Kawasan Benteng Keraton Wolio menjadi saksi dimulainya program Layar Benteng yang memutar 18 film karya sineas Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Sabtu (2/5/2026) malam. Kegiatan ini menjangkau enam lokasi berbeda di wilayah Kota Baubau, Kabupaten Buton, dan Buton Selatan untuk memperluas akses distribusi film lokal.

Program tersebut mendapatkan dukungan penuh dari Kementerian Kebudayaan melalui Dana Indonesiana kategori Sinema Indonesiana 2025. Pada malam pembukaan, ratusan warga dari berbagai usia berkumpul menikmati tiga film perdana yakni Baruga karya R. Hadikusuma, Kabanti Bula Malino garapan Milenia, serta Bola Pinoama oleh Alan ASJKG.

Menghidupkan Tradisi Layar Tancap di Situs Bersejarah

Panitia mengusung konsep nostalgia untuk mendekatkan sineas dengan penontonnya melalui format layar tancap. Selain pemutaran film, rangkaian acara juga diisi dengan pertunjukan monolog dan diskusi interaktif yang melibatkan langsung para kreator film dengan masyarakat setempat.

Ketua panitia, Andhy Loppes Eba, mengungkapkan bahwa Layar Benteng merupakan upaya menghidupkan kembali semangat yang pernah dijalankan Komunitas Seribu Benteng Production. Fokus utamanya adalah memberikan ruang bagi sineas lokal yang selama ini masih menghadapi keterbatasan akses distribusi karya.

"Dulu kami berkeliling kampung membawa proyektor dan mengadakan pemutaran film langsung di tengah masyarakat. Konsep itu yang coba kami hidupkan kembali," ujar Andhy Loppes Eba, Sabtu (2/5/2026).

Enam Titik Pemutaran di Kawasan Benteng dan Kampung Adat

Rangkaian penayangan 18 film dokumenter dan fiksi ini akan menyisir enam titik strategis di Kepulauan Buton. Lokasi pemutaran mencakup tiga kawasan benteng, yakni Benteng Keraton Wolio, Benteng Sorawoli, dan Benteng Rongi, serta tiga kampung adat meliputi Wapulaka, Wabula, dan Wasuamba.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Baubau, H. Idrus Taufiq Saidi, menilai sinergi antara sinema dan pelestarian budaya merupakan langkah strategis. Menurutnya, visual film menjadi media edukasi yang sangat efektif untuk mewariskan nilai-nilai sosial kepada generasi muda di tengah gempuran teknologi informasi.

"Melalui visual, sejarah bisa direkonstruksi, budaya diperkenalkan kembali, dan identitas lokal diwariskan dalam bentuk yang relevan dengan perkembangan zaman," kata Idrus Taufiq Saidi.

Film Sebagai Instrumen Promosi Pariwisata Daerah

Idrus menambahkan bahwa dalam konteks pengembangan pariwisata, film memiliki peran krusial sebagai sarana promosi daerah yang kuat. Narasi visual yang dihasilkan sineas lokal dianggap mampu menampilkan wajah daerah secara lebih otentik kepada publik yang lebih luas.

"Ketika budaya lokal dikemas dengan narasi visual yang kuat, film tidak sekadar menjadi dokumentasi, tetapi juga wajah promosi daerah. Konsep local genius harus terus diperkuat agar masyarakat tetap mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri," jelasnya.

Program Layar Benteng akan terus bergulir ke titik-titik selanjutnya di wilayah Buton dan Buton Selatan. Melalui integrasi ruang publik dan karya seni, agenda ini diharapkan mampu memperkuat identitas budaya sekaligus memberikan panggung bagi pertumbuhan industri kreatif di Sulawesi Tenggara.

Reporter: Muammad Amran
Back to top