KENDARI — Bubue, sebuah ayunan tradisional yang terbuat dari kayu dan tali tambang, menjadi ikon permainan khas suku Bajo di Sulawesi Tenggara. Dengan ketinggian mencapai kurang lebih 15 meter, ayunan ini menawarkan tantangan dan sensasi tersendiri bagi siapa pun yang mencobanya. Keberadaannya menjadi bukti kekayaan tradisi masyarakat pesisir yang hidup berdampingan dengan laut.
Bagaimana Cara Bermain Bubue?
Tidak seperti ayunan pada umumnya, bubue dimainkan dengan cara melompat dari ketinggian. Pemain akan diikatkan pada tali tambang yang telah terhubung dengan struktur kayu kokoh setinggi 15 meter. Saat melompat, tubuh akan melayang dan berayun seperti pendulum di atas permukaan air atau daratan, memberikan pengalaman yang mendebarkan.
Tali tambang yang digunakan biasanya terbuat dari serat alami yang kuat, sementara struktur kayu dipilih dari pohon-pohon keras yang tumbuh di wilayah pesisir. Tradisi ini awalnya merupakan bagian dari ritual atau permainan anak-anak suku Bajo yang kemudian berkembang menjadi atraksi wisata.
Warisan Budaya yang Mulai Dikenal Luas
Bubue bukan hanya sekadar wahana permainan, melainkan identitas budaya suku Bajo yang dikenal sebagai "pengembara laut". Selama berabad-abad, suku Bajo hidup di atas perahu dan bermukim di kawasan pesisir Sulawesi Tenggara, sehingga permainan seperti bubue erat kaitannya dengan keberanian dan kedekatan mereka dengan alam.
Keunikan bubue mulai menarik perhatian wisatawan domestik dan mancanegara. Beberapa destinasi wisata di Sulawesi Tenggara kini mulai mengenalkan bubue sebagai atraksi budaya, meskipun belum sepopuler tradisi bawah laut atau kuliner khas daerah. Upaya pelestarian pun terus dilakukan oleh komunitas lokal agar warisan ini tidak punah tergerus zaman.
Dari Tradisi Lokal Menuju Atraksi Wisata
Dokumentasi dari program "Tanah Air Beta" Trans TV turut menyoroti keberadaan bubue sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Tayangan tersebut memperlihatkan bagaimana warga suku Bajo mempertahankan tradisi ini di tengah modernisasi. Bagi mereka, bubue bukan hanya soal adrenalin, melainkan simbol keberanian dan kebersamaan.
Ke depannya, diharapkan pemerintah daerah setempat dapat lebih memperhatikan potensi bubue sebagai daya tarik wisata budaya. Dengan pengelolaan yang tepat, ayunan tradisional setinggi 15 meter ini bisa menjadi ikon baru Sulawesi Tenggara yang mendunia, seperti halnya tradisi lain dari suku Bajo yang kaya akan nilai sejarah dan kearifan lokal.