SULAWESI TENGGARA — Rupiah dibuka sedikit menguat di level 17.515 per dolar AS, namun segera tertekan, mencatatkan penurunan 0,08% dibandingkan penutupan sebelumnya. Data dari Bloomberg menunjukkan bahwa mayoritas mata uang Asia juga mengalami pelemahan, mencerminkan dampak dari kondisi pasar global yang tidak menentu.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan bahwa situasi di Timur Tengah yang memanas telah mendorong harga minyak dan menciptakan ketidakpastian di pasar global. Selain itu, ada peningkatan kebutuhan dolar AS secara musiman, terutama untuk pembayaran utang luar negeri, dividen, dan kebutuhan ibadah haji.
Destry menyatakan, "BI akan terus berkomitmen untuk selalu berada di pasar dengan melakukan smart intervention." Langkah ini diharapkan dapat mengurangi tekanan pada nilai tukar rupiah. Meskipun ada tantangan, BI melihat tanda-tanda perbaikan kepercayaan asing terhadap aset portofolio Indonesia, tercermin dari aliran modal asing yang masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) sebesar Rp 61,6 triliun pada bulan April.
Ketersediaan likuiditas valas di pasar domestik juga dikatakan cukup tinggi, dengan pertumbuhan dana pihak ketiga valas yang meningkat 10,9% secara tahunan per akhir Maret. Destry menambahkan, "BI memperkirakan tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda sehingga nilai tukar rupiah bisa kembali ke level fundamentalnya."
Secara keseluruhan, pergerakan nilai tukar rupiah menunjukkan tantangan yang dihadapi dalam kondisi pasar yang bergejolak. Pelemahan ini tidak hanya berdampak pada sektor keuangan, tetapi juga berpotensi mempengaruhi keputusan investasi dan daya beli masyarakat.