SULAWESI TENGGARA — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia meminta perusahaan besar, terutama di sektor pertambangan, segera mengadopsi Biodiesel B50. Ia bahkan secara gamblang menyebut kemungkinan meninjau Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) bagi perusahaan yang membandel. “Sekarang kita sudah bicara pengusaha-pengusaha, terutama pertambangan. Ini ada Boy Thohir di sana, ada Astra, kemudian ada Pak Arsyad, banyak sekali pengusaha,” kata Bahlil dalam sambutannya di acara peluncuran B50 di Karawang, Kamis (9/1).
RKAB merupakan dokumen perencanaan kerja dan anggaran yang menjadi instrumen vital bagi kelangsungan operasi perusahaan tambang. Menurut Bahlil, penggunaan B50 bukan sekadar opsi teknis, melainkan wujud keberpihakan pada produk dalam negeri. “Ini harus kita, ini pakai produk dalam negeri, jangan asing-asing terus. Ini jadi mereka sudah komit,” ujarnya.
Ia menilai tidak ada alasan bagi perusahaan untuk terus bergantung pada produk luar negeri jika Indonesia sudah mampu memproduksi bahan bakar berbasis sumber daya sendiri. Para pelaku usaha yang hadir, menurut Bahlil, telah menyatakan komitmen untuk beralih ke B50.
Pemerintah meluncurkan B50 setelah menjalani uji coba selama enam bulan pada berbagai moda transportasi, mulai dari kereta api, mobil, bus, kapal, hingga alat berat di sektor pertambangan dan pertanian. Bahlil mengklaim kualitas B50 lebih unggul dari pendahulunya, B40. Salah satu indikatornya adalah usia pakai filter kendaraan. “Pada B40, filter biasanya diganti setelah kendaraan menempuh 10.000 sampai 20.000 kilometer. Pada B50, ada kendaraan yang sudah menempuh 40.000 kilometer tanpa mengganti filter,” ujar Bahlil.
B50 adalah campuran 50 persen solar fosil dan 50 persen bahan bakar nabati berbasis sawit. Program ini dikaitkan langsung dengan upaya pemerintah mengurangi ketergantungan impor, memperbesar serapan pasar sawit dalam negeri, dan memperkuat kemandirian energi. Bahlil menyebut konsumsi solar nasional rata-rata mencapai 38 juta hingga 40 juta kiloliter per tahun. Sebelum B50, Indonesia masih mengimpor sekitar 3 juta sampai 4 juta kiloliter solar per tahun.
Pemerintah menyiapkan masa transisi selama dua bulan hingga stok B40 habis dan seluruh pasokan beralih ke B50. “Jadi nanti dua bulan B40-nya habis, dua bulan transisi, semuanya sudah pakai B50,” kata Bahlil. Ia melaporkan, saat ini B50 sudah digunakan sekitar 56 persen dari total konsumsi solar nasional.
Dengan implementasi B50, Bahlil mengklaim Indonesia untuk pertama kalinya tidak lagi mengimpor produk solar. Pemerintah menghitung program ini mampu menahan devisa hingga sekitar Rp170 triliun per tahun. “Dengan implementasi B50, maka alhamdulillah kita tidak lagi melakukan impor produk solar ke negara kita. Dan ini adalah pertama kali,” ujar Bahlil.