Di pinggir Jalan Poros Kendari–Kolaka, kawasan Kelurahan Rahandouna, aktivitas pengemasan rumahan terlihat setiap pagi. Bukan pabrik besar, melainkan rumah produksi milik perajin UMKM yang produknya sudah masuk ke etalase mini market di Jawa. Sulawesi Tenggara, provinsi dengan kekayaan sumber daya alam dan tradisi, kini mulai melahirkan produk-produk yang bersaing di level nasional.
Pertumbuhan ini tidak instan. Ada kerja panjang dalam hal perizinan, kemasan, dan logistik. Berikut lima UMKM unggulan dari Bumi Anoa yang produknya sudah menembus pasar nasional, berdasarkan pantauan langsung dan diskusi dengan pelaku industri setempat.
Tenun Buton bukan sekadar kain. Di tangan para pengrajin di Kelurahan Baadia, Kecamatan Murhum, Kota Baubau, kain ini menjelma jadi produk fesyen bernilai tinggi. Motif khas seperti Kampeni dan Kalambe kini tidak hanya dipakai saat acara adat, tetapi juga dijadikan blazer, tas, dan aksesori modern.
Salah satu pengrajin mengungkapkan bahwa permintaan dari luar Sulawesi Tenggara meningkat drastis sejak tiga tahun terakhir. "Dulu hanya pesanan lokal, sekarang rutin dikirim ke Jakarta, Bandung, bahkan ada yang ke Malaysia," ujarnya saat ditemui di sentra tenun setempat. Tantangan terbesar menurutnya adalah regenerasi pengrajin muda dan konsistensi warna alami.
Kecamatan Kabangka dan Lawa di Pulau Muna dikenal sebagai penghasil kopi robusta dengan karakter rasa yang unik: body pekat dengan aftertaste rempah ringan. Tidak seperti kopi-kopi dari Sumatera atau Jawa, robusta Muna punya profil yang lebih earthy dan cocok untuk campuran espresso.
Beberapa pelaku UMKM di sana sudah menjalin kerja sama dengan hotel berbintang di Bali dan resort di Lombok. Kopi ini dikirim dalam bentuk green bean maupun roasted, dengan proses pengolahan yang masih semi-basah khas tradisi lokal. "Kami tidak pakai mesin besar, tapi soal rasa, petani di sini sudah turun-temurun tahu kapan waktu petik merah yang pas," kata salah satu pemilik usaha roasting rumahan di Raha.
Abon ikan tuna produksi UMKM di sekitar Pasar Sentral Kendari dan Kelurahan Bonggoeya sudah bertahun-tahun jadi oleh-oleh favorit. Bedanya, kini beberapa merek lokal sudah mengantongi izin BPOM dan sertifikat halal MUI, sehingga bisa masuk ke jaringan minimarket modern seperti Indomaret dan Alfamart di luar Sulawesi.
Proses pengemasan vakum dan penggunaan pengawet alami menjadi kunci. "Dulu kami pakai plastik biasa, umur simpannya pendek. Sekarang setelah dibantu Dinas Koperasi dan UKM, kemasan kami standar pasar modern," jelas seorang pelaku usaha yang sudah eksis sejak 2010. Produk ini bisa ditemukan di beberapa titik di Jakarta dan Surabaya lewat jalur distribusi khusus.
Buah markisa dari Kolaka punya tingkat kemanisan dan keasaman yang seimbang. UMKM pengolah sirup di Kecamatan Wolo dan sekitarnya memproduksi sirup markisa tanpa perasa buatan. Produk ini sudah masuk ke beberapa supermarket di Makassar, Balikpapan, dan Samarinda.
Yang menarik, beberapa pengusaha muda di Kolaka mulai mengembangkan varian baru: markisa kombucha dan markisa siap minum dalam kemasan botol kaca. "Kami ingin produk ini tidak hanya dikenal sebagai sirup kental, tapi juga sebagai minuman kesehatan," ujar salah satu pendiri UMKM yang produknya sempat dipamerkan di pameran UMKM tingkat nasional tahun lalu.
Desa-desa di sekitar Kolaka memiliki tradisi pandai perak dan kuningan yang sudah berabad-abad. Berbeda dengan perak dari Kotagede yang lebih halus, perak Kolaka punya ciri khas motif geometris yang terinspirasi dari ukiran tradisional Tolaki.
Saat ini, beberapa perajin sudah mengirim produk gelang, kalung, dan miniatur rumah adat ke galeri di Bali dan Yogyakarta. Permintaan dari pasar nasional cenderung naik setiap menjelang libur Lebaran dan Natal. "Kami tidak bisa produksi massal karena semua handmade. Satu gelang bisa selesai dua sampai tiga hari," kata seorang perajin di bengkel kecilnya di pinggir jalan poros Kolaka.
1. Apa syarat utama UMKM Sulawesi Tenggara agar bisa tembus pasar nasional?
Syarat utamanya adalah legalitas produk: Nomor Induk Berusaha (NIB), izin BPOM untuk makanan dan minuman, serta sertifikat halal jika diperlukan. Kemasan juga harus standar dan tahan distribusi jarak jauh.
2. Apakah produk UMKM Sultra bisa dibeli secara online?
Bisa. Sebagian besar UMKM unggulan sudah masuk ke marketplace seperti Shopee, Tokopedia, dan beberapa memiliki website sendiri. Namun, tidak semua menyediakan pengiriman gratis ke luar pulau.
3. Apa tantangan terbesar UMKM lokal saat menembus pasar nasional?
Tantangan utamanya adalah logistik dan biaya pengiriman. Sulawesi Tenggara berada di zona Indonesia Timur, sehingga ongkos kirim ke Jawa relatif mahal. Selain itu, konsistensi kualitas produk juga menjadi perhatian utama.
4. Apakah ada dukungan dari pemerintah daerah untuk UMKM ini?
Ada. Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sulawesi Tenggara serta pemerintah kabupaten/kota kerap mengadakan pelatihan kemasan, bantuan perizinan, dan fasilitasi pameran di luar daerah. Namun, efektivitasnya bervariasi antar daerah.
5. Produk apa yang paling potensial dari Sultra untuk pasar nasional?
Produk berbasis sumber daya lokal seperti kopi, kakao, rumput laut, dan kerajinan tangan punya potensi besar. Kuncinya adalah inovasi kemasan dan cerita di balik produk (storytelling) yang kuat.
Pasar nasional bukan lagi monopoli produk dari Jawa atau Sumatera. UMKM Sulawesi Tenggara membuktikan bahwa dengan kualitas, legalitas, dan kemasan yang tepat, produk dari timur Indonesia bisa bersaing. Bagi pembaca yang ingin mencoba atau bahkan berinvestasi, langkah pertama adalah mencari kontak langsung pengrajin atau mengunjungi pameran UMKM di Kota Kendari dan Baubau.